UTS Ulumul Quran

1. Salah satu pembahasan dalam ulumul Qur’an adalah pengertian tentang tafsir, takwil dan terjemah. Coba jelaskan defenisi dan perbedaan ketiga pengertian di atas. 2. Jelaskan sejarah Tafsir dan sejarah Ulumul Quran dari mulai masa Nabi Muhammad saw., hingga masa sahabat Usman bin Affan r.a., secara jelas dan terperinci. 3. Jelaskan pengertian Al-Quran dan Pengertian Wahyu, serta sebutkan nama dan juluan Al-Quran, Selaskan pula ide gagasan al-Quran serta Posisi Al-Quran diantara wahyu yag lain. Petunjuk Soal : dijawab melalui kolom komen di bawah soal ini. Batas akhir menjawab/memberikan komentar pada hari Kamis tanggal 3 November 2022, pada pukul 23.59 WIB, setelah waktu ini, jawaban tidak dinilai. Sebelum menjawaban, terlebih dahulu sertakan Nama, NIM, Tanggal. DILARANG KERAS UNTUK MENGCOPY PASTE JAWABAN. Ide mungkin hampir sama namun dengan redaksi yang berbeda, sesuai dengan kemampuan masing-masing. SELAMAT MENGERJAKAN

Comments


  1. Contoh
    Nama: Abdul Rahman, S.Hum, M.Ag
    NIM: 12345789
    Tanggal: 30 Oktober 2022

    JAWABAN:
    1. ______________________________________________
    2. ______________________________________________
    3. ______________________________________________

    ReplyDelete
    Replies
    1. This comment has been removed by the author.

      Delete
    2. Nama : Erdi Jayari
      NIM : 211211044
      TANGGAL : 03 NOVEMBER 2022

      JAWABAN SOAL NO.1

      1.Pengertian tentang Tafsir, Takwil, dan Terjemah dan Perbedaannya.
      A.Tafsir adalah penjelasan atau keterangan tentang makna ayat-ayat Alquran tafsir juga ilmu yang membahas bagaimana cara menjelaskan atau menafsirkan ayat-ayat Alquran
      secara Etimologi yaitu terbagi 4 :
      Yang pertama adalah :
      1. Al Fasru الفكسف) ) yaitu membuka sesuatu yang tertutup.
      2. Al idahالايضاح) )yaitu menjelaskan dan menerangkan.
      3. AL ibanah ( الابانة) yaitu keterangan dan penjelasan.
      4. Alkasyfu الكشف) ) mengungkap makna yang dipikirkan.
      Secara terminologi yaitu terbagi dua yang pertama az zarkasyi yaitu ilmu tafsir ialah yang membahas ilmu Allah yang diturunkan kepada Rasulullah saw dan menjelaskan makna-maknanya mengeluarkan hukum dan hikmah-hikmah darinya
      Yang kedua yaitu az Zarqani yaitu tafsir ialah ilmu yang membahas Alquran dari segi dilalahnya sesuai dengan yang dikehendaki Allah SWT menurut kemampuan manusia.
      B. Takwil menurut ulama mutakhir lebih banyak memberikan peranan akal yang dapat diambil dari kata memalingkan kata ini tidak digunakan dalam definisi tersebut kecuali dengan menggunakan akal pikiran dari pengertian ini kemudian berkembang kegiatan tafsir bi ro’yi.
      Secara etimologi yaitu terbagi 3 :
      1. Al awal yang berarti kembali, mengembalikan.
      2. Al iyalah yang berarti pengendalian mengendalikan.
      3. Al mal yang berarti tempat kembali atau kesudahan.
      Secara terminologi yaitu terbagi 2 :
      1. Mutaqaddimin yang berarti takwil ialah sinonim dari tafsir artinya takwil ialah tafsir dan tafsir ialah takwil.
      2. Mutakhirin yang berarti memalingkan pengertian sesuatu lafaz dari maknanya yang rajih yaitu jelas kepada makna yang merdu belum jelas karena adanya dalil yang mengikutinya.

      C. Terjemah, Secara Bahasa terjemah berasal dari kata “tarjama” yang berarti menafsirkan dan menerangkan dengan bahasa yang lain (fassara wa syaraha bi lisanin akhar), kemudian dimasukan “ta’marbutah” menjadi al-tarjamatun yang artinya pemindahan atau penyalinan dari suatu bahasa ke bahasa lain. Menurut Abu al-Yaqzan ‘Atiyyah al-Jaburi di dalam kitab Dirasat fi al-Tafsir wa Rijalihi:

      Hubungan tafsir dan takwil :
      -Tafsir memerlukan penerjemahan yang ada di setiap lafaz-lafaz Alquran
      -Tafsir akan menjelaskan setiap lafaz yang ada di dalam Alquran
      -Sebelum menafsir sebuah ayat kita harus mengetahui arti atau terjemah dari lafaz Alquran tersebut sehingga kita paham akan maknanya.

      Perbedaan tafsir dan takwil :
      -Tafsir menjelaskan makna tersurat, takwil tersirat.
      -Tafsir berkaitan dengan ayat mukhomat, takwil ayat mutasyabihat.
      -Tafsir pendekatan riwayat, takwil secara dirayah
      -Tafsir kadang maknanya sudah diberikan Alquran sedangkan takwil belum.
      -Tafsir bersifat umum sedangkan takwil khusus.
      Sedangkan Terjemah : hanya mengubah kata-kata dari bahasa arab kedalam bahasa lain tanpa memberikan penjelasan arti kiandungan secara panjang lebar dan tidak menyimpulkan dari isi kandungannya.

      Delete
    3. JAWABAN SAOL NO.2
      2. SEJARAH TAFSIR dan SEJARAH ULUMUL QUR’AN dari mulai masa NABI MUHAMMAD SAW. Hingga masa SAHABAT UTSMAN BIN AFFAN Ra.
      Ulumul Quran pada masa Nabi awal mula kemunculan benih ulumul Quran adalah pada masa nabi Muhammad SAW yang ditandai dengan :
      1. Penafsiran nabi Muhammad terhadap beberapa ayat kepada para sahabat
      2. Antusias para sahabat dalam menghafal dan mempelajari Alquran
      3. Larangan nabi Muhammad menulis selain Alquran sebagai bentuk kemurnian Alquran.
      Ulumul Quran pada masa sahabat :
      Ilmu-ilmu Alquran pada masa nabi abu bakar dan Umar disampaikan secara talqin dan musyafahah dari mulut ke mulut. Pada pemerintahan Usman mulai memerintahkan para sahabat untuk mengumpulkan dan berpegang pada mushaf Al imam sebagai mushaf sumber utama. Maka pada masa inilah, awal mula berkembangnya ilmu rash Usmani atau ilmu rasm Alquran . Selain itu juga pada masa Ali Ra, ia memerintahkan abu Al Aswad AD Dauly membuat beberapa kaidah untuk menjaga eksistensi bahasa Arab. Maka pada masa ini mulai peletak batu pertama bagi ilmu i'rob Alquran.

      Delete
    4. 3. PENGERTIAN AL QU’AN dan PENGERTIAN WAHYU SERTA SEBUTKAN NAMA dan JULUKAN AL QU’AN , IDE GAGASAN dan POSISI AL QUR’AN DI ANTARA WAHYU LAIN.
      A. Alquran iyalah petunjuk bagi seluruh manusia untuk kemaslahatan hambanya dan berlaku untuk umum dan kekal. Alquran juga menjamin semua kebutuhan dan permasalahan manusia, baik permasalahan agama aqidah hukum muamalah hubungan antar negara kedamaian dan lain-lain.
      B. Wahyu adalah isyarat yang sangat rahasia. Wahyu adalah kata masdar yang menunjukkan arti tersembunyi dan cepat. Mana Kholil Al Qothan mengungkapkan bahwa Wahyu adalah pemberitahuan secara tersembunyi dan cepat yang khusus ditunjukkan kepada orang yang diberitahu tanpa diketahui orang lain.
      Nama dan julukan Al Qur’an :Nur, Hudan, Syifa , Mubin, Busyra, dan Rahmat.

      C . Alquran adalah petunjuk bagi seluruh umat manusia untuk kemaslahatan hambanya dan berlaku untuk umum dan kekal. Alquran juga menjamin semua kebutuhan dan permasalahan manusia baik permasalahan agama, aqidah, hukum, muamalah, hubungan antara negara kedamaian dan lain-lain.
      Wahyu adalah isyarat yang sangat rahasia. Wahyu ialah kata masdar yang menunjukkan arti tersembunyi dan cepat. Manna Kholil al-qathan mengucapkan bahwa Wahyu ialah pemberitahuan secara tersembunyi dan cepat yang khusus ditunjukkan kepada orang yang diberitahu tanpa diketahui orang lain . Sebagaimana memaknai Wahyu berdasarkan masdarnya. Oleh karena itu definisi Wahyu secara bahasa diantaranya :
      1. Ilham yang pancarkan dalam hati seperti Wahyu terhadap ibu nabi Musa ( QS Al Qosas :28 : 7).
      2. Ilham yang berupa naluri pada lebah ( An nahl (16): 68 ).
      3. Isyarat yang cepat melalui rumus dan kode seperti kepada nabi Zakaria (QS . Maryam (19):11).
      4. Bisikan dan tipu daya setan (QS .Al An ‘am(6): 112 dan 121 ).
      5. Wahyu kepada malaikat ( QS . Al Anfal(18): 12).
      6. Wahyu kepada para Nabi (QS. An Nisa(4) 163).
      Hadirnya Alquran di tengah-tengah umat yang memiliki peradaban keterbelakangan ini justru dapat merubah dan memperbaiki peradaban dunia membangun sejarah dan memberikan percontohan bagi umat lainnya baik dalam masalah keimanan persaudaraan keadilan maupun keseimbangan. Alquran juga memberi keamanan dan keselamatan sepanjang masa bahkan ketika berkembangnya ilmu pengetahuan maka semakin terlihat juga kemukjizatannya.

      Delete
  2. Nama : Mela Anissa
    Nim : 21122.0073
    Tanggal : 2 November 2022
    Jawaban : (note, ini jawaban nomor satu )
    1. Pengertian Tafsir Takwil dan Terjemah
    A. Definisi Tafsir
    Didalam kitab Al-Jurjani Tafsir adalah menjelaskan makna ayat baik dari sisi keadaannya, kisahnya, dan sebab di turunkannya suatu ayat, dengan lafadz yang menunjukkan kepadanya dengan jelas sekali. Tafsir diambil dari kata fassara -yupassiru - tafsiran yang berati keterangan, penjelasan, atau uraian.
    B. Definisi Takwil
    Takwil berasal dari kata Al-Awl yang artinya kembali (ar-ruju') atau dari kata al-ma'al yang artinya tempat kembali (Al -mashir) dan al-aqibah yang artinya kesudahan. Sedangkan menurut istilah Takwil artinya memalingkan lafad dari makna yang di dhahir kepada makna yang muhtamil, apabila makna yang mu'yamil tidak berlawanan dengan Al-Qur'an dan sunnah(Al-Jurjani) . Takwil terbagi menjadi dua macam, yaitu takwil yang jauh dari pemahaman artinya tidak memiliki dalil yang terendah sekalipun dalam penetapan nya, dan juga takwil yang mempunyai relevasi artinya penakwilannya paling tidak memenuhi standar makna terendah serta di duga sebagai makna yang benar.
    C. Definisi Terjemah
    Menurut bahasa Arab terjemah berasal dari kata 'tarjama' artinya menafsirkan dan menerangkan dengan bahasa yang lain, kemudian kemasukan 'ta' menjadi 'al-tarjamatun' yang artinya pemindahan atau penyalinan dari bahasa satu ke bahasa lain. Secara istilah terjemah dibagi menjadi dua defini, yaitu secara harfiah yang berati memindahkan kata kata dari satu bahasa yang sinonim dengan bahasa yang lain yang sesuai dengan syarat tertib bahasa nya, dan secara maknawiyah yang berati menjelaskan maksud kalimat dengan bahasa yang lain tanpa keterikatan dengan tertib kalimat aslinya. Terjemah sendiri memiliki beberapa bentuk yaitu terjemah interbahasa, terjemah antar bahasa, dan terjemah antar simbol atau transferensi.
    Dari definisi di atas kita dapat simpulkan perbedaan antara Tafsir, Takwil, dan Terjemah, yaitu :
    1. Tafsir menjelaskan makna ayat dengan panjang lebar, lengkap, disertai hukum hukum dan hikmah yang dapat di amb dari ayat yang ditafsirkan.
    2.Takwil adalah mengalihkan lafadz -lafadz ayat Al-Quran dari arti yang lahir dan rajih kepada arti yang samar dan marjuh.
    3. Terjemah adalah mengubah kata kata bahasa Arab ke bahasa lainnya

    ReplyDelete
  3. Nama : Mela Anissa
    Nim : 21122.0073
    Tanggal : 2 November 2022
    Jawaban : (note, ini jawaban nomor dua )
    2. Sejarah Tafsir dan Ulumul Qur'an
    A. Tafsir pada masa nabi Muhammad SAW.
    Dalam praktiknya, ketika Rasulullah menerima wahyu berupa ayat Al-Quran kemudian Rasulullah menyampaikan wahyu tersebut kepada sahabat dan menjelaskannya berdasarkan apa yang beliauterima dari Allah Ṣubhānahu wa Ta’ālā. Sebagai mana riwayat dari Siti Aisyah Radiyallahu ‘Anha yang mengatakan bahwa Rasulullah tidak menafsirkan ayat-ayat Al-Qur'an kecuali beberapa ayat yang telah di ajarkan oleh jibril Alayihi As salam. Pada masa nabi Muhammad SAW beliau merupakan penafsir tunggal dari Al-Qur'an yang memiliki Otoritas spiritual, intelektual, dan sosial. Pada saat itu Nabi menggunakan bahasa yang tidak panjang lebar, beliau hanya menjelaskan yang masih samar dan globalglobal. Dalam menafsirkan Al-Qur'an, Rasulullah SAW memenafsirkan ayat Al-Quran dengan ayat yang lain juga menafsirkan menggunakan hadist qudsiqudsi. Yang kemudian karakteristik penafsiran nabi SAW ini kita kenal dengan nama Tafsir bi al-Ma'thural-Ma'thur yang kehujjahannya tidak perlu di pertanyakan lagi.
    B. Tafsir pada masa sahabat
    a. Cenderung pada penekanan arti lafadz yang sesuai serta menambahkan qawl (perkataan atau pendapat).
    b. Pada masa pertama menerangkan makna dari segi bahasa dengan keterangan keterangan ringkas.
    d. Tidak menafsirkan dengan hawa nafsu sendirisendiri dan pikiran tercela melainkan dengan pemikiran terpujiterpuji(tidak bertentangan dengan Tafsir ma'thur.
    Sejarah mencatat penulisan Alquranul Karim telah melewati tiga periode, yaitu pada masa Nabi Muhammad SAW, pada masa Abu Bakar ash-Shiddiq Radhiyallahu Anhu, dan pada masa Utsman bin Affan Radhiyallahu Anhu.
    1. Pengumpulan Al Qur'an pada masa Rasulullah SAW
    Pengumpulan Al-quran di masa kenabian ini dikenal dengan dua cara, yaitu melalui tulisan (jam'u fi as-suthur) dan melalui hafalan (jam'u fi ash-shudur). Sahabat-sahabat penulis wahyu diantaranya adalah Zaid bin Tsabit, Ali bin Abi Talib, Muawiyah bin Abu Sufyan, Ubay bin Ka’ab.
    1. Pengumpulan Alquran melalui hapalan

    2. Pengumpulan Alquran dalam bentuk tulisan Keistimewaan yang kedua dari Alquran ialah pengumpulan dan penulisannya dalam lembaran. Rasulullah saw. Mempunyai beberapa orang sekretaris wahyu.
    2. Pada zaman Abu Bakar Ash-Shiddiq Radhiyallahu Anhu
    Dikutip dari buku Tajwid Lengkap Asy-Syafi'i karya Abu Ya'la Kurnaedi, pengumpulan Alquran pada masa Abu Bakar ash-Shiddiq Radhiyallahu Anhu disebabkan syahidnya para qari pada Perang Yamamah. Jumlahnya sekitar 50 qari, termasuk Salim maula Abu Hudzaifah. Perang tersebut terjadi pada tahun 12 Hijriyah.
    Karena itulah sang Khalifah memerintahkan Zaid bin Tsabit mengumpulkan Alquran dalam satu mushaf.
    3. Pada zaman Utsman bin Affan Radiyyallahu Anhu
    Al-Qur’an di masa Amirul Mukminin Utsman bin Affan radhiyallahu anhu disebabkan terjadinya perbedaan manusia dalam bacaan karena perbedaan mushaf yang ada di tangan para sahabat.
    Sehingga dikhawatirkan terjadi fitnah. Maka usman mengumpulkan kitab kitab menjadi satu, Utsman mengirimkan mushaf-mushaf salinan kepada beberapa negeri. Beliau juga memerintahkan untuk membakar lembaran atau mushaf selainnya.Utsman melakukan hal tersebut setelah bermusyawarah dengan para Sahabat.
    Hal itu menjadi penyempurna pengumpulan (alQuran) yang telah dilakukan Khalifah Rasulullah, Abu Bakar radhiyallahu anhu.

    ReplyDelete
  4. Nama : Mela Anissa
    Nim : 21122.0073
    Tanggal : 2 November 2022
    Jawaban : (note, ini jawaban nomor tiga )
    3.Pengertian Al-Qur’an, wahyu, nama dan julukan Al-Qur’an serta posisi atau kedudukan Al-Qur’an di antara wahyu yang lain
    A. Pengertian Al-Qur’an
    secara bahasa diambil dari kata: وقرانا- قراة- يقرا - ا قر yang
    berarti sesuatu yang dibaca. Arti ini mempunyai makna anjuran kepada umat Islam untuk membaca Alquran. Alquran juga bentuk mashdar dari القراة yang berarti menghimpun dan mengumpulkan. Alquran menurut istilah adalah firman Allah SWT. Yang disampaikan oleh Malaikat Jibril dengan redaksi langsung dari Allah SWT. Kepada Nabi Muhammad SAW, dan yang diterima oleh umat Islam dari generasi ke generasi tanpa ada perubahan.
    B. Pengertian Wahyu
    wahyu berasal dari bahasa Arab (الوَحْيُ) yang memiliki arti memberikan isyarat atau pemberitahuan dengan cepat dan tersembunyi. Sedangkan wahyu secara istilah syar’i yang dikemukakan para ahli adalah :
    a. Menurut Az-Zuhri
    Wahyu adalah apa yang diwahyukan kepada para Nabi, kemudian Allah teguhkan wahyu itu di dalam hatinya
    b.Menurut Manna Al-Qotthon
    Kalam Allah ta’ala yang diturunkan kepada para Nabi-Nya.
    C. Nama dan julukan Al-Qur’an
    Al-Qur’an memiliki 55 nama dengan berbagai alasan pemilihan nama tersebut. beberapa nama lain Al Quran yang dikutip dari Buku Mengenal Al Quran dan Kemenag RI adalah al-Kitab (yang dibukukan),
    D. Gagasan dan kedudukan Al-Qur’an di antara wahyu lain
    Al-Qur’an diturunkan untuk membimbing manusia kepada tujuan yang terang dan jalan yang lurus, menegakkan suatu kehidupan yang didasarkan kepada keimanan kepada Allah dan risalahNya. Juga mengajar mereka dalam menyikapi sejarah masa lalu, kejadian-kejadian, dan tentang berita-berita masa depan.
    Al-Qur’an tidak diturunkan langsung secara keseluruhan, tetapi berangsur-angsur. Diantara hikmah diturunkannya secara bertahap ini adalah agar menusia tidak sulit dalam memahami isi dan kandungannya.
    Kedudukan dan Fungsi Al-Qur'an
    a. Kedudukan Al-Quran adalah sebagai pedoman utama bagi umat Islam. Dijelaskan dalam buku Pendidikan Agama Islam yang disusun oleh Bachrul Ilmy, maksud dari pedoman utama ini adalah tidak boleh ada satu aturan pun yang bertentangan dengan Al-Qur'an. Sebagaimana firman-Nya dalam surah An Nisa ayat 105,artinya "Sesungguhnya Kami telah menurunkan Kitab (Al-Qur'an) kepadamu (Nabi Muhammad) dengan hak agar kamu memutuskan (perkara) di antara manusia dengan apa yang telah Allah ajarkan kepadamu. Janganlah engkau menjadi penentang (orang yang tidak bersalah) karena (membela) para pengkhianat."
    b. Selain sebagai sumber hukum utama, Al-Qur'an diturunkan juga sebagai petunjuk bagi umat manusia dan peringatan sekaligus pelajaran bagi mereka.Sebagai sumber pokok ajaran Islam, Al-Qur'an menerangkan tentang kaidah-kaidah syariat serta hukumnya yang cocok diterapkan di segala zaman dan tempat.
    c. Diturunkannya Al-Quran hanya kepada Nabi Muhammad saw saja. Sedangkan kitab yang diberikan pada nabi-nabi sebelumnya bukanlah Al-Quran. Namun ada kitab zabur, taurat, dan Injil.

    ReplyDelete
  5. Nama : Ripki Hidayatullah
    NIM : 21121.1040
    Tanggal : 2 Oktober 2022

    JAWABAN NO 1 :
    1. Jelaskan pengertian dan perbedaan tafsir, takwil dan terjemah
    A. Definisi
    • Tafsir, Secara bahasa tafsir diambil dari kata fasara – yufassiru - tafsiran yang artinya keterangan, penjelasan atau uraian. Secara istlilah tafsir adalah ilmu yang menjelaskan tentang kandungan al-qur’an, kisah dan asbabun nuzul pada ayat-ayat pada al-qur’an.

    Menurut para ahli ( Al-Jurjani )
    Menurut al-Jurjani, tafsir adalah menjelaskan makna ayat keadaannya, kisahnya dan sebab yang karenanya ayatditurunkan, dengan lafadz yang menunjukkan kepadanya dengan jelas sekali.

    • Ta’wil, Secara bahasa kata ta’wil berasal dari kata al-awl, yang berarti kembali, tempat kembali atau kesudahan. Secara istilah ta’wil adalah memalingkan suatu lafal dari makna zahir kepada makna yang tidak zahir yang juga dikandung oleh lafal tersebut.

    Menurut para ahli ( Imam Al-Ghazali )
    Imam Al-Ghazali dalam Kitab Al-Mutashfa : “Sesungguhnya takwil itu dalah ungkapan tentang pengambilan makna dari lafazh yang bersifat probabilitas yang didukung oleh dalil dan menjadikan arti yang lebih kuat dari makna yang ditujukan oleh lafazh zahir.”

    • Terjemah, Secara Bahasa terjemah berasal dari kata “tarjama” yang berarti menafsirkan dan menerangkan dengan bahasa yang lain (fassara wa syaraha bi lisanin akhar), kemudian dimasukan “ta’marbutah” menjadi al-tarjamatun yang artinya pemindahan atau penyalinan dari suatu bahasa ke bahasa lain. Menurut Abu al-Yaqzan ‘Atiyyah al-Jaburi di dalam kitab Dirasat fi al-Tafsir wa Rijalihi:
    “Memindahkan suatu kalam (pembicaraan) dari satu bahasa kedalam bahasa yang lain dengan tidak menerangkan ma’na asal dari kalam yang diterjemahkan.”
    B. Perbedaan
    • Tafsir : menjelaskan makna ayat yang kadang-kadang dengan panjang lebar,lengkap dengan penjelasan hokum-hukum dan hikmah yang dapat diambil dari ayat itu dan seringkali disertai dengan kesimpulan kandungan ayat-ayat tersebut.
    • Ta’wil : mengalihkan atau memalingkan lafadz-lafadz ayat al-Qur’an dari arti yang lahir dan kuat kepada arti lain yang samar dan tidak kuat.
    • Terjemah : hanya mengubah kata-kata dari bahasa arab kedalam bahasa lain tanpa memberikan penjelasan arti kiandungan secara panjang lebar dan tidak menyimpulkan dari isi kandungannya

    ReplyDelete
  6. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete
  7. JAWABAN NO 2.1 :
    2. Jelaskan sejarah Tafsir dan sejarah Ulumul Quran
    A. Sejarah Ulumul qur’an
    Di masa Rasulullah Saw, para sahabat mempelajari Al-qur’an langsung kepada Nabi Saw. Mereka tidak hanya mendengar atau menghafal saja, tapi sampai kepada level memahami dan mengamalkan ayat-ayat yang disampaikan oleh rasulullah. Dalam sebuah riwayat, para sahabat tidak akan berpindah ke ayat yang lain sebelum mereka mengamalkannya dan juga para sahabat berupaya keras untuk menghafalnya. Dalam sebuah riwayat, pada masa itu orang yang mampu menghafal al-Baqarah dan Ali-Imran adalah sesuatu yang luar biasa di kalangan para sahabat.
    Pada awalnya, Al-qu’ran tertulis dalam bentuk suhuf (lembaran-lembaran) yang terpisah-pisah. Kemudian di masa Abu Bakar ash-Shiddiq, ada usulan dari Umar bin Khattab untuk membukukan Al-qur’an melihat banyaknya para penghafal yang gugur dan dikhawatirkan menjadi hilangnya Al-qur’an. Awalnya Abu Bakar menolak, namun setelah berdialog panjang dengan Umar, ia menerimanya.
    Ketika masa khalifah Utsman bin Affan, Al-qur’an sudah dibukukan menjadi satu buah mushaf. Para penghafal Al-qur’an menyebar ke berbagai daerah untuk mengajarkannya. Kemudian, muncul masalah berikutnya, ketika bermunculan keragaman cara melafalkan Al-qur’an. Masing-masing meyakini apa yang diucapkannya bersumber dari Nabi Saw. Akibat dialek lokal masing-masing penduduk lokal. Maka, oleh Utsman bin Affan mengambil keputusan untuk membuat Al-qur’an dijadikan satu buah kitab, mulai saat itulah salinan-salinannya disebarkan ke berbagai wilayah yang telah masuk ajaran Islam.
    Setelah Alquran dibukukan dan disebarkan ke berbagai daerah di sekitar Mekkah dan Madinah, bersamaan dengan para sahabat yang datang kesana untuk mengajarkan Islam, perkembangan ilmu keislaman pun terus berkembang. Pada abad ke-2 H setelahnya atau sekitar 200 tahun setelah Nabi wafat, muncul sejumlah karya yang merupakan hasil ijtihad para ulama. Contohnya, di bidang hadis muncul karya seperti Muwatta karya Malik bin Anas, Sahih al-Bukhari karya al-Bukhari, Sahih Muslim karya Muslim bin al-Hajjaj, atau Musnad karya Ahmad bin Hanbal. Di bidang fikih dan usul fikih muncul karya seperti al-Umm dan al-Risalah, keduanya ditulis oleh Imam al-Shafi‘i.

    ReplyDelete
  8. JAWABAN NO 2.2 :
    B. Sejarah Tafsir
    Pada masa Nabi Muhammad, kebutuhan tafsir belumlah begitu dirasakan, sebab apabila para sahabat tidak memahami suatu ayat, mereka langsung menanyakan kepada Rasulullah. Semua persoalan apapun yang muncul saat itu senantiasa mendapat jawaban dengan cepat dan tepat. Oleh karena itu wajar apabila para sahabat bertanya kepada Nabi Muhammad tentang ayat al-qur’an dan beliau memberikan jawaban dan tafsirnya, namun ssemua itu bukan berdasarkan fikirannya sendiri, tetapi menurut wahyu dari Allah. Karena itulah, Allah adalah pihak pertama yang menafsirkan al-qur’an, sebab Allah yang menurunkan al-qur’an dan Allah lah yang mengetahui maksud firman-Nya.
    Tafsir masa Nabi Muhammad dan masa awal pertumbuhan Islam, setiap kali Nabi Muhammad menerima al-qur’an, beliau kemudian menyampaikan kepada para sahabat, disamping itu beliau menganjurkan kepada para sahabat untuk menyampaikan kepada sahabat lain yang belum mendengarnya, terutama kepada keluarga, masyarakat luar yang telah memeluk Islam. Begitu juga sama halnya ketika para sahabat menerima tafsir dari Nabi Muhammad, para sahabat kemudian menyampaikan kepada anggota keluarga dan masyarakat luar yang telah memeluk Islam. Melalui cara tersebutlah yang ditempuh oleh Nabi Muhammad, maka semua ayat dan seluruh ajaran yang terkandung di dalamnya dapat diketahui dan diamalkan oleh para sahabat, meskipun tidak semua sahabat menerima langsung dari Nabi Muhammad.
    Pada masa sahabat, proses mempelajari tafsir bagi para sahabat tidaklah mengalami kesulitan, karena mereka menerima langsung dari Shahib al-Risalah (pemilik tuntunan), mereka mudah memahami al-qur’an, karena dalam bahasa mereka sendiri dan karena suasana turunnya ayat dapat mereka saksikan.
    Setelah mendapat tuntunan dan ajaran tafsir dari Nabi Muhammad, kemudian para sahabat merasa terpanggil ambil bagian dalam menafsirkan al-qur’an, penafsiran sahabat terhadap al-qur’an senantiasa mengacu pada inti dan kandungan al-qur’an, mengarah kepada penjelasan makna yang dikehendaki dan hukum-hukum yang terkandung dalam ayat serta menggambarkan makna yang tinggi. Namun, mereka tidak menambahnya sebelum mengamalkan ilmu dan amal yang terkandung didalamnya.
    Setelah Nabi Muhammad wafat, kemudian para sahabat dalam menafsirkan al-qur’an dengan menggunakan ijtihad. Namun tidak semua sahabat melakukan ijtihad, hanya dilaksanakan oleh para sahabat yang kapasitas keilmuannya maupun militansinya mumpuni.
    Selain itu, dalam menafsirkan persoalan tertentu, seperti kisah dalam al-qur’an atau sejarah Nabi terdahulu, para sahabat berdialog dengan ahli kitab Yahudi dan Nasrani. Dan dari proses inilah dikemudian hari muncul kisah Israiliyyat dalam kitab tafsir.
    Pada periode sahabat ini, banyak permasalahan yang terjadi, yaitu hadits-hadits telah beredar pesat dan bermunculan hadits-hadits palsu dan lemah di tengah masyarakat. Sementara itu perubahan sosial semakin menonjol dan timbul lah beberapa persoalan yang belum pernah terjadi atau dipersoalkan pada masa Nabi Muhammad.

    ReplyDelete
  9. JAWABAN NO 3 :
    3. Pengertian Al-Qur’an, wahyu, nama dan julukan Al-Qur’an serta posisi atau kedudukan Al-Qur’an di antara wahyu yang lain
    A. Pengertian Al-Qur’an dan wahyu
    • Secara Bahasa Al-Qur’an diambil dari kata: قرا – يقرا – قراة - وقرانا yang yang berarti sesuatu yang dibaca. Secara istilah Al-Qur’an adalah kalam allah yang diturunkan kepada nabi Muhammad dengan perantara malaikat Jibril dan diriwayatkan secara mutawattir yang diawali dengan surah al-fatihah dan di akhiri dengan surah an-nas sebagai pedoman seluruh umat manusia.
    • Secara Bahasa Kata “wahyu” merupakan bentuk mashdar dari kata “waha - yuha - wahyu” berarti sesuatu yang tersembunyi dan cepat. Secara istilah wahyu adalah petunjuk atau pemberitahuan yang diterima secara cepat dan samar oleh seorang Nabi atau Rasul dengan menyakini bahwa apa yang diterimanya itu benar-benar datang dari Allah Swt
    B. Nama dan Julukan al-qur’an
    Sangat banyak nama dan julukan al-qur’an yang dapat dan harus kita ketahui, salah satunya adalah :
    1. Kalam
    Dinamakan dengan “al-Kalam”, dikarenakan Al-qur’an dapat mempengaruhi akal orang yang mendengarkan untaian ayat-ayatnya. Sebagaimana dalam (Q.S. al-Taubah : 6 )
    …حَتّٰى يَسْمَعَ كَلٰمَ اللّه…
    “agar dia dapat mendengar firman Allah”
    2. Furqan
    Dinamakan “al-Furqan”, dikarenakan Al-Qur’an mampu membedakan antara yang haq dan batil. Sebagaimana dalam ( QS. al-Furqan : 1 )
    تَبٰرَكَ الَّذِيْ نَزَّلَ الْفُرْقَانَ عَلٰى عَبْدِهٖلِيَكُوْنَلِلْعٰلَمِيْنَنَذِيْرًاۙ
    “Mahasuci Allah yang telah menurunkan Furqan (Al-qur’an) kepada hamba-Nya (Muhammad), agar dia menjadi pemberi peringatan kepada seluruh alam (jin dan manusia)”
    3. Syifa’
    Dinamakan “al-Syifa’”, karena Al-qur’an dapat dijadikan sebagai obat untuk mengobati penyakit hati seperti kekufuran, kebodohan dan dengki. Serta, juga dapat digunakan untuk mengobati penyakit fisik. Sebagaimana dalam ( Q.S. al-Isra’ : 82 )
    وَنُنَزِّلُ مِنَ الْقُرْاٰنِ مَا هُوَ شِفَاۤءٌ
    “Dan Kami turunkan dari Al-Qur’an (sesuatu) yang menjadi penawar”

    C. Ide gagasan dan posisi al-qur’an diantara wahyu yang lain
    Al-qur’an adalah kalam allah yang diturunkan kepada nabi Muhammad semata-mata bukan diturunkan begitu saja melainkan harus dipelajari dan dipahami isi kandungan yang ada pada al-qur’an. Al-qur’an juga diturunkan untuk menyempurkan kitab-kitab terdahulu yang sudah banyak di ubah oleh kaum mereka sendiri. Berbeda dengan al-qur’an yang isinya tidak dapat di ubah oleh siapapun karena allah lah yang menjaga al-quran itu sendiri.
    Kedudukan Al-qur’an atau kalamullah disini sebagai sumber hukum pertama sebelum hadits yang dimana al-qur’an ini dijadikan sebagai pedoman dan petunjuk bagi seluruh umat islam karena semua maslah dalam aspek kehidupan sudah ada dan tercantum di dalam al-qur’an.

    ReplyDelete
  10. Nama : Viorina Fauzia Agustin
    Nim : 21121.1110
    Tanggal : 02 November 2022
    1. Pengertian Tafsir, Ta'wil dan Terjemah
    A.Definisi
    a.Tafsir
    Tafsir secara bahasa mengikuti wajan “Taf’il” artinya menjelaskan menyingkap dan menerangkan makna-makna rasional. Sebagian ulama berpendapat, kata tafsir adalah kata kerja yang terbalik, berasal dari kata “Safara” yang juga memiliki makna menyingkap (Al-Kasyf). Tafsir secara istilah, Abu Hayyan mendefinisikan tafsir sebagai ilmu yang membahas tentang cara pengucapan lafadz-lafadz Al Qur’an, indikator-indikatornya, masalah hukum,-hukumnya, makna-maknanya yang berkaitan dengan kondisi struktur lafadz yang melengkapinya. Menurut Az-Zarkasy tafsir adalah ilmu untuk memahami kitabullah yang diturunkan kepada nabi Muhammad, menerangkan makna-maknanya serta mengeluarkan hukum dan hikmah-hikmahnya.

    b.Ta'wil
    Ta'wil berasal dari bahasa (al-awl) yang berarti kembali (ar-ruju) atau dari kata al ma'al yang artinya tempat kembali (al-mashir) dan al-aqibah yang berarti kesudahan. Secara istilah ta'wil berarti memalingkan suatu lafal dari makna zahir kepada makna yang tidak zahir yang juga dikandung oleh lafal tersebut jika kemungkinan lafal tersebut sesuai dengan Al-Kitab dan As-Sunah. Menurut Imam Al Ghazali di dalam kitab Al-Mutashfa sesungguhnya ta'wil itu adalah ungkapan tentang pengambllan makna dari lafadz yang bersifat probilitas yang didukung oleh dalil dan menjadikan arti yang lebih kuat dari makna yang ditujukan oleh lafadz zahir.

    c. Terjemah
    Terjemah berasal dari bahasa Arab "Tarjama" yang berarti menafsirkan dan menerangkan dengan bahasa lain (fassara wa syaraha bi lisanin akhar) kemudian kemasukkan "ta marbuthah" menjadi al-tarjamatun yang artinya pemindahan atau penyalinan dari suatu bahasa ke bahasa lain. Terjemah menurut istilah
    1. Terjemah Harfiyah: memindahkan kata-kata dari suatu bahasa yang sinonim dengan bahasa yang lain yang susunan kata yang diterjemahkan sesuai dengan kata-kata yang menerjemahkan, dengan syarat tertib bahasanya.
    2. Terjemah Tafsiriyah atau Maknawiyah: menjelaskan maksud kalimat (pembicaraan) dengan bahasa yang lain tanpa keterikatan dengan tertib kalimat aslinya atau tanpa memerhatikan susunannya.

    B. Perbedaan
    a.Tafsir: menjelaskan makna ayat yang kadang-kadang pajang lebar, lengkap dengan penjelasan hukum-hukum dan hikmah yang dapat diambil dari ayat tersebut dan seringkali disertai dengan kesimpulan kandungan ayat-ayat tersebut.
    b. Ta'wil: mengalihkan lafadz-lafadz ayat Al Qur'an dari arti yang lahir dan rajih kepada arti yang samar dan marjuh.
    1. Tafsir merupakan syarh dan penjelasan bagi suatu perkataan dan penjelasan ini berada dalam pikiran dengan cara memahaminya dan dalam lisan dengan ungkapan yag merujukannya. sedangkan ta'wil ialah esensi sesuatu yang berada dalam realita (bukan dalam pikiran).
    2. Dikatakan, tafsir adalah apa yang telah jelas di dalam kitabullah atau tertentu (pasti) dalam sunnah yang shahih karena maknanya telah jelas dan gamblang. Sedanfkan ta'wil ialah apa yang disimpulkan para ulama. Karena itu, sebagian ulama mengatakan: tafsir itu apa yang berhubungan dengan riwayat, sedangkan ta'wil ialah apa yang berhubungan dengan dirayah.
    3. Dikatakan pula, tafsir lebih banyak digunakan dalam menerangkan lafadz dan mufrodat (kosa kata), sedangkan ta'wil lebih banyak dipakai dalam menjelaskan makna dan susunan kalimat.
    c. Terjemah : Hanya mengubah kata-kata dari bahasa Arab ke bahasa lain tanpa memberikan penjelasan arti kandungan secara panjang lebar dan tidak menyimpulkan dari isi kandungannya.

    ReplyDelete
  11. Nama : Viorina Fauzia Agustin
    Nim : 21121.1110
    Tanggal : 02 November 2022
    Jawaban no 2 UTS ULUMUL QUR'AN
    2. Sejarah Tafsir dan Ulumul Qur'an Mulai masa Rasulullah-sahabat Utsman Bin Affan
    Jawab: Munculnya Ulum Al Qur'an merupakan bagian yang penting dalam mengetahui dan memahami Al Qur'an. Ulum Al Qur'an sebagai pengetahuan tentang Al Qur'an fokus pada 2 hal yaitu kajian yang berkaitan dengan materi-materi yang terdapat dalam Al Qur'an seperti kajian tafsir dan kajian yang membahas asbab an-Nuzul.
    Perkembangan Ulumul Qur'an dikelompokkan dalam beberapa fase
    1. Masa Rasulullah SAW
    Pada masa ini merupakan awal masa penafsiran berupa menafsirkan ayat Al-Qur'an langsung dari Rasulullah kepada para sahabat . Sahabat begitu antusias dalam bertanya tentang makna suatu ayat , menghafalkan dan mempelajari hukumnya.
    a. Rasulullah menafsirkan beberapa ayat kepada sahabat
    Dari Uqbah bin Amir ia berkat: "Aku mendengar Rasulullah berkata diatas mimbar, "Dan siapkan untuk menghadapi mereka kekuatan yang kamu sanggupi (Al-Anfal:60), ingatlah bahwa kekuata disini adalah memanah."(H.R Muslim).
    Rasulullah hingga awal abad ke-2 fase lahirnya cabang-cabang ulum al-qur'an dan kodifikasinya, mulai abad ke-2 hingga ke-5, dan fase kodifikasi al-qur'an sebagai suatu ilmu yang mencakup berbagai ilmu al-qur'an ,yaitu hingga abad ke-5 hingga saat ini.
    b. Antuisme sahabat dalam menghafal dan mempelajari Al-Qur'an
    Diriwayatkan dari Abu Abdurrahman as-Sulami, ia mengatakan "Mereka yang membacakan Al-Qur'an kepada kami , seperti Usman Bin Affan dan Abdullah Bin Mas'ud serta yang lain menceritakan bahwa mereka bila belajar dari Rasulullah 10 ayat mereka tidak melanjutkannya, sebelim mengamalkan ilmu dan amal yang ada di dalamnya, mereka berkata, kami mempelajari Al Qur'an berikut ilmu dan amalnya sekaligus.
    c. Larangan Rasulullah untuk menulis selain Al Qur'an, sebagai upaya menjaga Al Qur'an
    Dari Abu Sa'ad Al-Khudry, bahwa Rasulullah bersabda, "janganlah kamu tulis dari aku, barangsiapa menuliskannya tentang aku selain Al-Quran, hendaknya dihapus. Dan ceritakan apa dariku , dan itu tiada halangan baginya, dan barangsiapa sengaja berdusta atas namaku, ia akan menempati tempatnya di api neraka. (H.R Muslim).

    2. Masa Khalifah
    Masa khalifah, tahapan perkembangan awal Ulumul Qur'an mulai berkembang pesat, diantaranya dengan kebijakan-kebijakan para sahabat
    a.Khalifah Abu Bakar dan Umar Bin Khattab
    Kebijakan pengumpulan (penulisan Al-Qur'an yang pertama di prakarsai oleh Umar bin Khattab dan dipegang oleh Zaid bin Tsabit
    b. Khalifah Usman bin Affan dan Ali bin Abi Thalib
    Kebijakan menyatukan kaum muslimin pada satu mushaf, dan hal itu pun terlaksana, mushaf itu disebut mushaf imam. Salinan-salinan mushaf ini juga dikirim ke beberapa provinsi. Penulisan mushaf ini disebut AR-ROSMUL USMANI yaitu dinisbatkan pada Usman dan ini dianggap sebagai permulaan dari ilmu rasmul Qur'an.
    Masa Ali yaitu kebijakannya pada Abu Aswad Ad-Du'ali meletakkan kaidah-kaidah nahwu, cara pengucapan yang tepat dan baku dan memberikan ketentuan harakat pada Al-Qur'an.

    ReplyDelete
  12. Nama : Viorina Fauzia Agustin
    Nim : 21121.1110
    Tanggal : 02 November 2022
    Jawaban no 3 UTS ULUMUL QURAN
    3. Pengertian Al-Qur'an, Wahyu, nama-nama Al-Qur'an, julukan Al-Qur'an, ide gagasan Al-Qur'an dan posisi Al-Qur'an
    a.Definisi Al-Qur'an
    Al-Quran yaitu kalam Allah yang diturunkan kepada Nabi Muhammad melalui perantara malaikat jibril dan disampaikan secara mutawattir kepada umat manusia yang diawali dengan surah Al-Fatihah dan diakhiri dengan surah An-Nas ketika membacanya dinilai ibadah dan mendapat pahala.
    b.Definisi Wahyu
    Wahyu berasal dari bahasa Arab "Al-Wahyu" yang memiliki arti mwmberi isyarat atau pemberitahuan dengan cepat dan tersembunyi.
    Wahyu menurut Manna Al Qathan yaitu pemberitahuan secara tersembunyi dan cepat yang khusus dan ditunjukan pada orang yang diberitahu tanpa diketahui orang lain.
    c.Nama dan Julukan Al-Qur'an
    1. Al-Kitab
    2. Al-Furqan
    3. Adz-Dzikr
    4. At-Tanzil
    5. Nur
    6. Mau'izhah
    7. Mubin
    8. Al-Mubarak
    9. Busyra
    10. Aziz
    11. Majid
    12. Basyir
    d.Ide gagasan Al-Quran
    Al-Quran sebagai mukjizat terbesar, Al-Quran sebagai risalah Allah untuk seluruh umat manusia. Maka tidak heran bahwa A-Quran dapat memenuhi segala tuntutan kemanusiaan yang berdasar pada prinsip utama agama-agama samawi.Rasulullah saw menantang orang-orang Arab dengan Al-Qur'an, padahal ia diturunkan dengan bahasa mereka sendiri. Mereka juga pakar tentang bahasa itu, namun mereka tidak mampu untuk membuat sepertinya.Maka nyatalah kelemahan mereka, dan menjadi kuatlah risalah kemukjizatan Al-Qu'an. Keistimewaan inilah yang tidak dimiliki leh kitab kitab sebelum Al Qur'an, sebab, kitab-kitab itu datang secara temporer dengan waktu tertentu. Dengan keistimewaan itulah Al-Qur'an dapat memrcahkan persoalan-persoalan kehidupan. Al Quran menetapkan dasar-dasar umum yang dapat dijadikan landasan oleh manusia, yang relevan di segala zaman.
    e. Posisi Al-Qur'an diantara kitab-kitab sebelumnya
    Kedudukan Al-Quran atas kitab-kitab sebelumnya adalah Al-Qur'an sebagai penyempurna kitab-kitab sebelumnya, yang mana segala hal yang tidak ada di dalam kita-kitab sebelum Al-Qur'an ada di dalam Al-Qur'an. Al-Qur'an sebagai sumber ilmu dan referensi utama dari penentuan hukum hukum yang mutlak agama dalam Islam. Al-Qur'an sebagai acuan dalam pedoman hidup, serta sebagai acuan kebenaran yang abadi dan terjaga keasliannya.

    ReplyDelete
  13. NAMA : Chika Sholeha
    NIM : 21121.1069
    TANGGAL: 03 November 2022

    Jawaban

    No 1. Definisi dan perbedaan Tafsir, Takwil dan Terjemah

    Definisi Tafsir menurut disiplin ulumul-Qur’an adalah membuka dan menjelaskan maksud yang sukar dari suatu lafal. Definisi secara terminologi, sebagaimana menurut M.Ali As-Shabuny, yaitu:“Ilmu yang digunakan untuk memahami kitab Allah yang diturunkan kepada Nabi-Nya Muhammad SAW. dan menjelaskan makna-maknanya, dan mengeluarkan hukum-hukum dan hikmahnya.”

    Definisi Tafsir dapat disimpulkan bahwa tafsir adalah berbagai aktivitas yang berupaya menyingkap makna yang paling jelas dan tepat di antara makna yang dimuat oleh teks lafal ayatAl-Qur’an, sehingga berfungsi sebagai penjelas pesan Al-Qur’an.

    Takwil menurut bahasa berasal dari kata “awwala” yang mempunyai arti kembali dan berpaling. Menurut istilah, takwil adalah makna-makna tersembunyi yang bersifat spiritual, yang dimuat dalam ayat Al-Qur’an mulia yang diistimbatkan oleh para ulama dan para arif. Menurut M. Hasbi Ash-Shiddieqy, takwil adalah penjelasan salah satu makna yang dimuat oleh lafal.

    Menurut etimologi, Terjemah adalah merupakan proses memindahkan dari satu bahasa ke bahasa yang lain, yakni menerangkan dengan bahasa lain. Sementara menurut terminologi, terjemah Al-Qur’an adalah pengalihan bahasa terhadap bahasa lain dari ayat-ayat Al-Qur’an, berdasarkan susunan kalimatnya secara benar dan tepat, agar bisa dipahami artinya secara benar dan tepat pula.

    Perbedaannya :
    Tafsir bermakna menjelaskan maksud dan tujuan ayat-ayat Alquran, baik dari sisi makna, kisah, hukum, maupun hikmah, sehingga mudah dipahami oleh umat.

    Sedangkan Takwil, Takwil adalah memindahkan lafaz dari makna yang lahir kepada makna lain yang juga dipunyai lafaz tersebut dan jika makna tersebut sesuai dengan Alquran dan sunah. Dengan demikian, takwil berarti mengembalikan sesuatu pada maksud yang sebenarnya, yakni menerangkan yang dimaksud dari ayat Alquran.

    Begitu juga dengan Terjemah adalah memindahkan makna sebuah lafaz dari bahasa tertentu ke dalam bahasa lainnya. Dengan kata lain, terjemah adalah memindahkan pembicaraan dari satu bahasa ke dalam bahasa yang lain dengan mengungkapkan makna dari bahasa itu

    Dari segi tujuan, antara tafsir dan takwil tidak memiliki perbedaan, yakni sama-sama berusaha untuk menjelaskan makna ayat Alquran. Namun demikian, bila ditinjau dari segi kerjanya atau jalan yang ditempuh, keduanya memiliki perbedaan yang jelas.

    ReplyDelete
  14. Jabawan
    No 2. Sejarah Tafsir dan Ulumul Qur'an dari masa Nabi Muhammad Saw hingga masa sahabat Utsman bin Affan
    Penafsiran Al-Qur’anPada Periode Nabi Muhammad (12 SH-11 H)
    Penafsiran yang pertama kali adalah penafsiran yang berasal dari Rasulullah yang sifatnya adalah amali (praktis). Ciri utama penafsiran periode ini adalah tafsir praktis eksplanatif, yaitu penjelasan yang bertujuan untuk pengamalan. Penjelasan yang diberikan bukan hanya dalam bentuk verbal, tetapi bisa juga dalam bentuk praktis.
    Tafsir pada masa ini dinilai sangat otoritatif dan memiliki kualitas terbaik sebab didasarkan pada sumber utama yaitu sunnah Nabi atau hadits bisa berupa bentuk qauliyyah, fi’liyyah, dan taqririyyah. Jika diantara sahabat ada masalah atau tidak paham pada suatu ayat maka mereka bisa menanyakan langsung kepada Nabi SAW., sebab yang diberitugas untuk menjelaskan Al-Qur’an adalah Nabi SAW., sebagaimana dalam QS. Al-Qiyamah ayat 17-19, yang artinya
    “Sesungguhnya atas tanggungan Kami-lah mengumpulkannya (di

    dadamu) dan (membuatmu pandai) membacanya. Apabila Kami telah
    selesai membacanya, ikutilah bacaanya itu. Kemudian sesungguhnya atas
    tanggungan Kami-lah penjelasannya.”

    Salah satu kelebihan tafsir pada masa Nabi adalah selalu dibimbing oleh wahyu, terutama yang berkaitan dengan hal ghaib, syari’ah, dan ibadah. Nabi SAW , juga berijtihad dalam hal muamalah, kebijakan politik,dan strategi perang.Apabila ada kesalahan, maka Allah akan menurunkan wahyu sebagai koreksi dan teguran.

    Ulama berbeda pendapat mengenai apakah semua ayat-ayat Al-Qur’antelah ditafsirkan oleh Nabi atau belum? Golongan pertama pendapat dari Ibn Taimiyah, bahwa semua ayat-ayat Al-Qur’antelah ditafsirkan oleh Nabi Muhammad SAW.,karena tugas Nabi adalah menafsirkan Al-Qur’andan mustahil apabila Al-Qur’anbelum dijelaskan secara tuntas. Adapun golongan kedua menyatakan bahwa tidak semua ayat Al-Qur’an ditafsirkan oleh Nabi, sebab tidak banyak riwayat hadis tentang penafsiran, jadi Nabi hanya menafsirkan beberapa ayat yang sulit dipahami. Para sahabat dengan kemampuan bahasa Arab yang dimilikitelah mampu memahami Al-Qur’an secara umum. Jika memang semua ayat telah ditafsirkan maka tidak mungkin terjadi perbedaan penafsiran. Jika semua ayat telah ditafsirkan maka tugas untuk memahamiAl Qur’an telah selesai, tetapi kenyataannya Nabi tidak menafsirkan semua ayat Al-Qur’andan hal ini menjadi hikmah dan tantangan bagi kita untuk terus belajar dan mengkaji Al-Qur’an.

    *

    ReplyDelete
  15. *Jenis-jenis Tafsir pada Masa Nabi SAW.
    A.Bayan Al-Ta’rif
    Yaitu menjelaskan istilah yang ada dalam Al-Qur’an, misalnya pada surah Al-Kautsar ayat 1, lafazh الكوثر dijelaskan dalam beberapa hadits adalah sungai di surga yang kedua tepinya dilapisi dengan mutiara.

    B. Bayan at tafsir
    Yaitu berupa penjelasan perincian terhadap konsep-konsep tertentu dalam suatu lafaz, contohnya kata اصاب dalam Surah As Syura ayat 30 yang ditafsirkan oleh Nabi dengan rinci yaitu, 'uqubah' ( siksa) Al marad ( sakit atau penyakit) Al nakhbah ( bencana) Al bala ( cobaan)

    C. Bayan Tawsi
    Yaitu penjelasan untukmemperluas pengertian yang terkandung dalam lafaz ادعون dalam surah Ghafir ayat 60. Kata tersebut tidak hanya bermakna doa sebagai permohonan,tetapi jugaditafsirkandengan
    perintah ibadah.

    d.Bayan Al-Tamsil
    Yaitu penjelasannyadalamkonteks memberi,contohsesuaidengankonteks saat itu misalnya dalam surahAl-Anfal ayat 60. Di manauntuk menghadapi musuh,kita harus mempersiapkan kekuatan

    ReplyDelete
  16. 2.Penafsiran Al-Qur’anPeriode Sahabat (12 H-akhir abad 1 H)

    Sahabat-sahabat Rasulullah yangmulia, tidak ada yang berani menafsirkan Al-Qur’anketika Rasulullah masih hidup, karena Rasulullah sendirilah yang memikul tugas menafsirkan Al-Qur’an. Sesudah Rasulullah wafat, barulah para sahabat yang alim mengetahui rahasia-rahasia Al-Qur’an dan yang mendapat petunjuk dari Rusulullah sendiri merasa perlu bangun untuk menerangkan apa yang mereka ketahui dan menjelaskan apa yang mereka pahami tentang maksud-maksud Al-Qur’an.
    Banyak para sahabat yang ahli dalam menafsirkan Al-Qur’an. Namun demikian yang terkemuka diantara mereka, sebagaimana kata Al-Suyuti dalam Al-Itqan, hanya ada 10orang, yaituKhulafa’ al-Rasyidin, Ibnu Mas’ud, Ibnu Abbas, Ubay bin Ka’ab, Zaid bin Thabit, Abi Musa al-Asy’ari, dan Abdullah bin Zubair.Diantara mereka yang paling banyak diterima tafsirnya dari kalangan Khulafa’al-Rasyidin ialah Ali bin Abi Thalib, sedangkan yang paling banyak diterima tafsirnya dari bukan kalangan Khulafa’al-Rasyidin ialahIbnu Abbas, Abdullah binZubair, Ibnu Mas’ud, dan Ubay bin Ka’ab. Keempat sahabat ini mempunyai ilmu dan pengetahuan yang luas dalam bahasa Arab. Selain itu juga, mereka banyak menemani kehidupan Rasulullah dalam kesehariannya, sehingga memungkinkan mereka mengetahui kejadian-kejadian atau peristiwa-peristiwa nuzulul-Qur’an dan tidak pula merasa keberatan menafsirkan Al-Qur’an dengan ijtihad.
    Ibnu Abbas yang mempunyai julukan‚Tarjuman Al-Qur’an. Ia adalah sahabat yang paling banyak pengetahuanya dalam hal tafsir dan juga yang paling banyak diterima riwayatnya di antara keempat sahabat tadi. Hal ini dikarenakan Rasulullah pernah meludahkan sebagian dari air ludahnya ke dalam mulut Ibnu Abbas setelah ia dilahirkan, kemudianRasulullah mendoakanya,“Ya Allah, berilah kepadanya pengetahuan tentang agama dan limpahkanlah
    kepadanya ilmu tentang takwil/hikmah, dan juga ia hidup lama dan bergaul dengan sahabat-sahabat besar.
    Penafsiran sahabat terhadap Al-Qur’an senantiasa mengacu kepada inti dan kandungan Al-Qur’an, mengarah kepada penjelasan makna yang dikehendakidan hukum-hukum yang terkandung dalam ayat,serta menggambarkan makna yang tinggi-dari ayat-ayat yang berisi nasihat, petunjuk, kisah-kisah agamis, penuturan tentang keadaan umat terdahulu, penjelasan tentang maksud peribahasa,dan ayat-ayat yang dijadikan oleh Allah sebagai contoh bagi manusia untuk dipikirkan dan direnungkan, nasihat yang baik, dan maksud-maksud Al-Qur’an yang lain.
    Untuk semua itu, para sahabat banyak merujuk kepada pengetahuan mereka tentang sebab-sebab turunnya ayat dan peristiwa-peritiwa yang menjadi sebab turunnya ayat. Oleh karenanya, mereka tidak mengkaji dari segi nahwu, i’rab dan macam-macam balaghah, yaitu ilmu ma’ani, bayan, dan badi’, majaz, dan kinayah.
    Selain itu juga, mereka tidak mengkaji segi lafazh, susunan kalimat, hubungan suatu ayat dengan ayat sebelumnya dan segi-segilain yang sangat diperhatikan oleh mufassir-mufassir kontemporer (mutaakhirin), karena mereka mpunyai dhauq (rasa kebahasaan) dan mereka mengetahui hal itu semua dengan fitrah mereka, tidak seperti kita yang baru mengetahui hal itu semua berdasarkan kaidah-kaidah dan dari kitab-kitab serta hasil-hasil kajian.
    Diantara para sahabat yang diterima tafsirnya selain dari yang 10 itu ialah: Abu Hurairah, Anas bin Malik, Abdullah bin ‘Umar, Jabir bin Abdillah dan ‘Aisyah. Hanya saja tafsir yang diriwayatkan dari beliau-beliau ini sedikit jumlahnya, jika dibandingkan dengan tafsir-tafsir yang diriwayatkan oleh kesepuluh dari tokoh-tokoh sahabat tersebut.

    ReplyDelete
  17. Jawaban
    No 3. Pengertian Al Qur'an dan Wahyu , Nama dan julukan, ide gagasan Al Qur'an, Posisi Al-Qur'an diantara Wahyu yang lain

    Pengertian Al-Qur'an secara terminologi, para ulama
    mengungkapkan beberapa definisi. Menurut Imam az-Zarqaniy, AlQur'an adalah perkataan (kalam) Allah, bukan perkataan manusia
    dan tidak ada keraguan padanya.44 Sedangkan menurut Inu Kencana
    Syafi’ie, Al-Qur'an adalah kitab suci yang diturunkan Allah Swt., Tuhan
    semesta alam kepada Rasul Saw. dan sekaligus Nabi-Nya yang terakhir
    Muhammad Saw. melalui Malaikat Jibril untuk disampaikan kepada
    seluruh umat manusia sampai akhir zaman.45 Para ulama ushul fiqih dan
    ulama ahli fiqih, Al-Qur'an adalah lafaz yang diturunkan kepada Nabi
    Muhammad Saw. dari awal surat al-Fatihah sampai akhir surat an-Nas.46
    Sementara itu, menurut as-Shabuni, Al-Qur'an adalah kalam Allah
    Swt. yang diturunkan kepada Nabi dan Rasul terakhir melalui Malaikat
    Jibril yang tertulis dalam mushaf dan sampai kepada kita dengan jalan
    tawâtur (mutawatir), membacanya merupakan ibadah yang diawali
    dengan surat al-Fatihah dan diakhiri dengan surat an-Nas.47
    Sedangkan menurut M. Hadi Ma’rifat, Al-Qur'an adalah firman
    Allah Swt. yang mengandung pesan samawi yang diperantarai oleh
    wahyu (wahyu adalah ilham gaib dari sisi Malakut al-A’la yang turun
    ke alam materi).48

    definisi Al-Qur'an adalah sebagai berikut:
    1. Kalamullah.
    2. Mengandung mukjizat.
    3. Diturunkan kepada Nabi Muhammad Saw.
    4. Diturunkan melalui Malaikat Jibril.
    5. Tertulis dalam mushaf
    6. Disampaikan dengan jalan mutawatir.
    7. Membacanya merupakan ibadah.
    8. Diawali dengan surat al-Fatihah dan diakhiri dengan surah an nass

    ReplyDelete
  18. Pengertian Wahyu secara bahasa diartikan sebagai isyarat yang cepat, bisa
    juga diartikan sesuatu yang diturunkan, disingkapkan atau diumumkan.
    Wahyu merupakan sebuah pencerahan, sebuah bukti atas realitas dan
    sebuah penegasan kebenaran. Ia adalah sebuah tanda yang jelas,
    sebuah bukti atau indikasi, makna atau signifikansi, bagi seorang
    pemerhati, yang harus diamati, direnungkan dan dipahami. Dari wahyu
    akan memunculkan gagasan, saran, pemikiran, penemuan ilmiah,
    tatanan sosial yang egaliter, dan ditemukannya kebenaran ilahi,
    memperkaya pengetahuan, petunjuk dan kesejahteraan manusia serta
    membebaskan pikiran-pikiran, moral, dan emosi-emosi yang
    terbelenggu dan meninggikan harkat dan martabat manusia-manusia
    yang tertindas oleh kekuatan-kekuatan kezaliman, tirani dan tahayyul.
    10
    Segala yang ada di jagat raya, bumi, langit, matahari dan bulan,
    siang dan malam, terang dan gelap, pergantian musim, semuanya
    merupakan wahyu jika dipandang dari sisi di atas, dan tanda-tanda bagi orang-orang yang hidup dan memiliki kebijaksanaan dan
    wawasan.
    Orang-orang yang memiliki mata untuk melihat, telinga untuk
    mendengar, hati untuk merasakan, dan otak untuk berpikir dan
    memahami. Begitu pula gejala-gejala alam, sosial dan historis dalam
    semua manifestasinya, misteri dan keajaiban, semuanya adalah
    dipandang juga sebagai wahyu, serta ia diartikan sebagai tanda-tanda
    dan bukti kebenaran bagi siapapun yang dapat mengeksplorasinya,
    menyelidiki dan menemukan kebenaran serta memahaminya.
    Demikian juga, wahyu juga dipahami sebagai sesuatu yang
    dibisikkan ke dalam sukma, yang diilhamkan, dan merupakan isyarat
    yang cepat yang lebih mirip pada sesuatu yang dirahasiakan dari pada
    dilahirkan; sesuatu yang dituangkan dengan cara cepat dari Allah SWT
    ke dalam dada para nabi-Nya. Wahyu merupakan kebenaran yang
    langsung disampaikan Allah SWT kepada para nabi-Nya untuk
    disampaikan kepada para ummatnya.
    Sebelum wahyu Al-Qur’an diturunkan kepada Nabi Muhammad
    SAW, konsep wahyu telah ada di dalam budaya masyarakat Arab pada
    masa itu. Konsep pada saat itu terkait dengan puisi dan ramalan yang
    dianggap datang dari dunia jin yang disampaikan kepada penyair dan
    peramal melalui proses pewahyuan. Penyair dan peramal pada saat itu
    merupakan sumber-sumber kebenaran karena mendapatkan informasi
    dari jin yang mampu mendengar atau mencuri informasi dari langit.
    nabi dan rasul. Wahyu ini diturunkan sesuai dengan sesuatu yang akan
    terjadi pada zaman ini, wahyu diturunkan melalui prantara malaikat
    Jibril, lalu malaikat Jibril menyampaikan kepada nabi dan rasul yang di
    kehendaki oleh Allah SWT.
    Wahyu merupakan mukjizat yang luar biasa diturunkan kepada
    nabi dan rasul, wahyu dapat dikatakan sebagai kata-kata umumnya,
    menurut Abu Zaid, di karenakan, “wahyu meliputi semua teks yang
    menunjuk kepada titah Allah untuk manusia” jadi Al-Qur’an merupakan
    bagian atau salah satu dari wahyu. Karena wahyu tidak hanya turun
    kepada nabi Muhammad saja, akan tetapi juga turun kepada nabi-nabi
    sebelum nabi Muhammad. Di samping itu, dalam koteksnya, wahyu
    yang turun kepada Nabi Muhammad saja tidak hanya Al-Quran, akan
    tetapi juga berupa hadits, baik berupa hadits qudsi maupun hadits
    nabawi.

    ReplyDelete
  19. Nama dan Julukan Al Qur'an
    Yaitu
    kitab, Mubin, Karim, Kalam, Nur, Huda , Rahmah, Furqon, Syifa, Mauidhan , Dzikir, Mubarak, Aliy, Hikmah, Hakim, Muhaimin, Habl, Shiroth Mustaqim, Qoyyim , Qoul , fash , Naba'adhim, Ahsan Al hadits, Mutasyabih, Matsani, Tanzania, Ruh , Wahyu, Arrabiyah, Basyair, Bayan, Ilm, Haqq, ajab, Tadzkirah, Al Urwah, wutsqa, Shiddiq, adl, Amru, munady, Busyro, Majid, Zabur, Basyir, nadzir , Aziz, Balagh, Qoshos, Mukaromah, MarFuah, Mutaharah, waid.

    ReplyDelete
  20. *Ide gagasan Al Qur'an dan Posisi Al-Qur'an diantara Wahyu yang lain

    Isi pokok dalam Al-Quran terdapat 5, diantaranya :

    1. Aqidah, merupakan pokok yang berisi ketauhidan bahwa Allah SWT itu ESA.

    2. Ibadah, merupakan pokok yang berisi pengajaran akan amalan-amalan pokok dalam kehidupan manusia.

    3. Akhlak, merupakan pokok yang berisi pengajaran maupun larangan baik tentang akhlakul karimah maupun akhlakul madzmumah.

    4. Muamalah, merupakan pokok pengajaran hubungan manusia dalam interaksi sosial sesui syariat.

    5. Tarikh/Qissah, merupakan pokok yang berisi sejarah maupun peristiwa-peristiwa penting yang terjadi di masa lalu sebagai pembelajaran di masa yang akan datang.

    *Dalam Islam Al-Qur’an adalah kitab suci yang komplit dan sempurna dalam berbagai aspek apa pun, baik dunia maupun akhirat, karena Al-Qur’an adalah wahyu Allah yang di turunkan kepada Nabi Muhammad SAW melalui Malaikat jibril. Kehebatan dalam sususan kalimat Al-Qur’an menjadi Mu’jizat dan membuat dia tahan dengan kritikan-kritikan serta membuat para sastrawan arab tidak berkutik di buatnya.

    Al-Qur’an itu sendiri terjamin keasliannya karena di riwayatkan secara Mutawatir lagi posisinya yang tak pernah terlupakan oleh umat Islam karena dia menjadi sentral keilmuan baik dari segi hukum ataupun yang lainnya

    ReplyDelete
  21. Nama : Dewi Rapinta
    NIM : 21121.1107
    Tanggal: 03 November 2022
    1.Definisi Tafsir,Takwil dan Terjemah beserta perbedaannya
    Dalam buku yang berjudul Ulumul Qur’an,Prof Dr.H.Abdul Djalal HA menerangkan:
    • Terjemah menurut bahasa berarti salinan,mengganti,menyalin,dan memindahkan.Sedangkan menurut istilah,terjemah berarti menyalin atau memindahkan kalimat dari suatu bahasa kebahasa lainnya.
    • Tafsir menurut bahasa berarti keterangan atau uraian.Menurut istilah tafsir berarti ilmu mengenai cara pengucan lafal-lafal Al-Qur’an serta cara mengungkapkan petunjuk,kandungan-kandungan hukum,dan makna-makna yang terkandung didalamnya.
    • Takwil menurut bahasa berarti menerangkan atau menjelaskan.Menurut istilah takwil berarti mengembalikan sesuatu kepada tujuannya,yakni menerangkan apa yang dimaksud.

    Perbedaan Tafsir,Takwil dan Terjemah adalah:
    • Tafsir dan Takwil berupaya menjelaskan makna setiap kata didalam Al-qur’an,sedangkan terjemah hanya mengalihkan bahasa Al-Quran dari bahasa Arab kedalam bahasa non-Arab
    • Tafsir bersifat lebih umum dan banyak digunakan untuk lafal dan kosakata dalam kitab-kitab yang diturunkan Allah dan kitab lainnya,sedangkan Takwil lebih banyak digunakan digunakan makna dan kalimat dalam kitab-kitab yang diturunkan Allah saja.
    • Tafsir menerangkan makna lafal yang tak menerima selain dari satu arti,sedangkan takwil menetapkan makna yang dikehendaki suatu lafal yang dapat menerima banyak makna karena didukung dalil.
    • Tafsir menetapkan apa yang dikehendaki ayat dan menerapkan seperti apa yang dikehendaki Allah,sementara takwil meyeleksi salah satu makna yang diterima ayat tanpa meyakinkan bahwa itulah yang dikehendaki Allah.
    • Tafsir sifatnya lebih umum dari takwil.tafsir menyangkut seluruh ayat,sedangkan takwil hanya berkenaan dengan ayat-ayat mutasyabihat (samar dan perlu penjelasan)
    • Tafsir menerangkan makna-makna ayat dengan pendekatan Riwayat,sedangkan takwil dengan pendekatan dirayat.Tafsir menerangkan makna ayat dengan tersurat,sedangkan takwil dengan tersirat.

    ReplyDelete
  22. Nomor 2.
    A.Sejarah Ulumul Qur’an
    Masa Rasulullah SAW penafsiran sudah dimulai.Nabi menafsirkan ayat kepada para sahabat yang mana mereka adalah oranh arab asli sehingga mereka dengan mudah memahami keistimewaan bahasa arab dengan intuisinya.Ketika mereka kesulitan dalam memahami suatu ayat mereka menanyakan ke Rasulullah SAW.Seperti yang disampaikan oleh Muslim dari Uqbah bin Amir:Aku mendengar Rasulullah SAW bersabda diatas mimbar “Dan persiapkanlah dengan segala kemampuan untuk menghadapi mereka dengan kekuatan yang kamu sanggupi.” Ingatlah bahwa kekuatan disini adalah memanah.Dilain pihak Rasulullah melarang mereka menulis sesuatu dari dirinya kecuali Al-Qur’an.Tapi disaat thawaf saat ada seseorang yang mendatanginya dan berkata tidak ada yang bisa dia hafal dari yang Rasulullah sampaikan maka Rasulullah memperbolehkannya untuk menulis karena tidak lain yang keluar dari mulut Rasulullah SAW adalah kebenaran.
    Pada masa khilafah tahapan perkembangan awal ulumul Qur’am berkembang pesat,diantaranya dengan kebijakan khalifah Au Bakar dan Umar,pada masa kedua khilafah ini Al-Qur’an masih diriwayatkan melalui penuturan secara lisan.Kemudian pada masa kekhilafahan Usman dengan kebijakan menyatukan kaum Muslimin pada satu mushaf,dan hal itupun terlaksana.Mushaf ini disebut dengan mushaf Usmani.Salinan-salinan mushaf ini juga dikirimkan kebeberapa provinsi.Penulisan mushaf tersebut disebut dengan Ar-rasmul Utsmani yaitu dinisbatkan kepada Usman dan itu dianggap sebagai permulaan dari ilmu Rasmil Usmani.

    B.Sejarah Tafsir
    Ilmu tafsir tumbuh sejak zaman Rasulullah beserta para sahabatnya mentradisikan,menguraikan dan menafsirkan Al-Qur’an setelah turunnya.Tradisi tersebut berlangsung hingga beliau wafat.Pada masa hidup nabai Muhammad SAW kebutuhan tafsir belum terlalu dirasakan,sebab apabila para sahabat tidak memahami suatu ayat maka mereka langsung menanyakan ke Rasulullah.Dalam hal ini Rasulullah memberikan jawaban yang memuaskan.Nabi Muhammad disini berfungsi sebagai penjelas(Mubayyin).Namun jawaban dan tafsirnya bukan dari fikiran Rasulullah sendiri,tapi menurut wahyu dari Allah.Beliau menanyakan ke malaikat Jibril dan malaikat jibrilpun menanyakan kepada Allah SWT.Karena itulah Allah adalah pihak pertama yang menafsirkan Al-Qur’an,sebab Allh yang menurunkan Al-Qur’an dan Allah pulalah yang mengerti maksud firmanNya.Tafsir masa Nabi Muhammad SAW disusun secara pendek dan tampak ringkas.karena penguasaan bahasa arab yang murni masa itu cukup untuk memahami gaya dan susunan kata kalimay Al-Qur’an.Setiap kali nabi Muhammad SAW menerima Al-Qur’an beliau langsung menyampaikan kepada sahabatnya dan memerintahkan kepada sahabat yang mendengar untuk menyampaikan kepada yang belum mendengar.Berdasarkan sejah perkembangannya Rasulullah memiliki sumber dalam menafsirkan Al-Qur’an yaitu Al-Qur’an dengan Al-Qur’an dan Al-Qur’an dengan Hadits.
    Pada masa sahabat mereka menafsirkan Al-Qur’an dengan menggunakan metode Ijtihad.Namun tidak semua sahabat melakukan istihad.Ijtihad hanya dilakukan oleh para sahabat yang kapasitas ilmunya mumpuni.Sumber penafsiran para sahabat yaitu Al-Qur’an dengan Al-Qur’an,Al-Qur’an dan Hadits,Ijtihad dan akal,ragam Qiraat,Informasi dari para ahli kitab kalangan yahudi dan Nasrani,dan bahasa.







    ReplyDelete
  23. Nomor 3
    A. Pengertian Al-Qur’an dan Wahyu
    • Al-Qur’an secara bahasa (etimologi) berasal dari bahasa Arab yaitu “Qur’an” dimana Qur’an sendiri merupakan akar kata dari’ Qara’a-Yaqro’u-Qur’anan’.Kata Qur’anan secara bahasa berarti bacaan karena seluruh isi dalam Al-Qur’an adalah ayat-ayat firman Allah SWT dalam bentuk bacaan yang berbahasa arab.Sedangkan menurut istilah ialah firman Allah SWT yang berbentuk mukjizat,diturunkan kepada nabi Muhammad SAW,melalui malaikat Jibril yang tertulis dalam mushahif,yang diriwayatkan kepada kita dengan mutawatir,merupakan ibadah bila membacanya,dimulai dengan surah Al-fatihah dan diakhiri Surah Annaas.
    • Wahyu berasal dari bahasa Arab ‘Alwahyu’ yang memilki arti memberikan isyarat atau pemberitahuan dengan cepat dan tersembunyi.Menurut Mannaul Qattan wahyu adalah pemberitahuan secara tersembunyi dan cepat yang khusus yang ditujukan kepada orang yang diberitahu tanpa diketahui orang lain.

    B.Nama dan Julukan Al-Quran
    Disebutkan dalam kitab khozinatul Asror karya syeikh Sayyid Muhammad haqqy An-nazily menjelaskan bahwasannya Al-Qur’an memiliki 55 nama dengan berbagai alasan pemilihan nama tersebut.Penjelasan ini juga telah dijelaskan dalam kitab Al-Itqon fi Ulumil Qur’an karya syeikh Jalaluddin As-suyuthi.Jika diuraikan ,maka nama Al-Qur’an tersebut adalah:
    1. Kitab
    2. Mubin
    3. Qur’an
    4. Karim
    5. Kalam
    6. Nur
    7. Huda
    8. Rahmah
    9. Furqon
    10. Syifa’
    11. Mau’izhah
    12. Dzikr
    13. Mubarok
    14. ‘Aliy
    15. Hikmah
    16. Hakim
    17. Muhaimin
    18. Habl
    19. Shirath Mustaqim
    20. Qayyim
    21. .Qaul
    22. .Fashl
    23. .Naba’ Azhim
    24. Ahsan Al-Hadits
    25. .Mutasyabih
    26. Matsani
    27. Tanzil
    28. Ruh
    29. Wahy
    30. .Al’arabiy
    31. .Basha’ir
    32. Bayan
    33. .’Ilm
    34. Haqq
    35. Hady
    36. ’Ajab
    37. .Tadzkirah
    38. .Al-urwah Al-Wutsqo
    39. .Shidq
    40. ’Adl
    41. .Amr
    42. .Munadiy
    43. .Busyra
    44. Majid
    45. Majid
    46. Basyir
    47. ’Aziz
    48. Nadzir
    49. Balagh
    50. .Qashash
    51. Shuhuf
    52. Mukarramah
    53. .Marfu’ah
    54. .Muthahharah
    55. Wa’id


    C.Ide gagasan dan Posisi Al-Qur’an dengan kitab lainnya
    Ide-ide utama yang ingin Al-Qur’an sampaikan tentang pelbagai hal yang penting dan perlu kita ketahui terbagi menjadi 8 tema utama yaitu:
    1. Tuhan 5.Kenabian dan wahyu
    2. Manusia sebagai Individu 6.Eskatologi
    3. Manusia dalam masyarakat 7.Setan dan kejahatan
    4. Alam semesta 8.Kelahiran masyarakat muslim


    Adapun posisi Al-Qur’an atas kitab-kitab lainnya yaitu Al-Qur’an datang untuk membenarkan dan menyempurnakan isi dari kitab Zabur,Taurat,dan Injil.Sebagaimana disebutkan dalam Al-Qur’an surat An-nisa’ ayat 47 yang artinya “ Wahai orang-orang yang telah diberi kitab! Berimanlah kepada apa yang telah kami turunkan (Al-Qur’an) yang membenarkan kitab yang ada pada kamu’sebelum kami mengubah wajah-wajahmu,lalu kami putar kebelakang atau kami laknat mereka sebagaimana kami melaknat orang-orang yang berbuat maksiat pada hari sabat,Dan ketetapan Allah pasti berlaku”.

    ReplyDelete
  24. Nama : Laras Sati Budiana
    Nim : 21121. 1087
    Tanggal : 3 November 2022
    JAWABAN NO 1
    JAWABAN NO 1
    A. Pengertian Tafsir
    Tafsir secara bahasa mengikuti wazan “taf’il”, artinya menjelaskan, menyingkap, dan menerangkan makna-makna rasional. Kata kerjanya mengikuti wazan “dharaba-yadhribu” dan “nashara-yanshuru”. Dikatakan : “fasara asy-syai’a-yafsiru” dan “yafsuru,fasran,” dan “fassarahu”, artinya “abanahu” (menjelaskan). Kata tafsir memiliki arti menjelaskan dan menyingkap yang tertutup. Abu hayyan mendefinisikan tafsir sebagai “ilmu yang membahas tentang cara pengucapan lafazh-lafazh Al-Quran, indikator-indikatornya, masalah hukum-hukumnya baik yang independen maupun yang berkaitan dengan yang lain, serta tentang makna-maknanya yang berkaitan dengan kondisi struktur lafazh yang melengkapinya.” Menurut Az-Zarkasyi, “Tafsir adalah ilmu untuk memahami kitabullah yang diturunkan kepada Muhammad, menerangkan makna-maknanya serta mengeluarkan hukum dan hikmah-hikmahnya.
    B. Pengertian Ta’wil
    Ta’wil secara bahasa dari kata “a-u-l”, yang berarti kembali ke asal. Ta’wil dalam tradisi muta’akhirin adalah, “Memalingkan makna lafazh yang kuat (rajih) kepada makna yang lemah (marjuh) karena ada dalil yang menyertainya.” Menurut Imam Al-Ghazali dalam Kitab Al-Mutashfa : “Sesungguhnya takwil itu adalah ungkapan tentang pengambilan makna dari lafazh yang bersifat probabilitas yang didukung oleh dalil dan menjadikan arti yang lebih kuat dari makna yang ditujukan oleh lafazh zahir.”
    C. Pengertian Terjemah
    Kata terjemah berasal dari bahasa arab yaitu “tarjama” yang artinya menafsirkan dan menerangkan dengan bahasa yang lain (fassara wa syaraha bi lisanin akhar), kemudian dimasukan “ta marbutah” menjadi al-tarjamatun yang memiliki arti pemindahan atau penyalinan dari suatu bahasa ke bahasa lain. Pengertian Terjemah menurut Istilah dibagi menjadi dua, yaitu terjemah harfiyah dan terjemah tafsiriah/maknawiyah. Adapun terjemah harfiyah adalah terjemah yang berarti memindahkan kata-kata dari suatu bahasa yang sama dengan bahasa yang lain yang susunan katanya diterjemahkan sesuai dengan kata-kata yang menerjemahkan, dengan syarat tertib bahasanya. Terjemah Tafsiriah atau Maknawiyah adalah terjemah yang berarti menjelaskan maksud kalimat (pembicaraan) dengan bahasa yang lain tanpa keterikatan dengan tertib kalimat aslinya atau tanpa memerhatikan susunannya.
    D. PERBEDAAN TERJEMAH, TAFSIR, DAN TA’WIL
    Tafsir adalah apa yang telah jelas di dalam kitabullah sedangkan ta’wil adalah apa yang disimpulkan para ulama. Karena itu sebagian ulama mengatakan, “Tafsir adalah apa yang berhubungan dengan riwayat sedang ta’wil adalah apa yang berhubungan dengan dirayah.” Sedangkan terjemah adalah pemindahan bahasa dari satu bahasa ke bahasa yang lain tanpa memberikan penjelasan atau isi kandungan yang panjang lebar.
    Tafsir lebih banyak dipergunakan dalam menerangkan lafazh dan mufradat (kosa kata) sedangkan ta’wil lebih banyak dipakai dalam (menjelaskan) makna dan susuna kalimat.

    ReplyDelete
  25. Nama : Laras Sati Budiana
    Nim : 21121. 1087
    Tanggal : 3 Oktober 2022
    JAWABAN NO 2

    A. Sejarah perkembangan Tafsir
    1. Pada masa Nabi dan sahabat
    Para sahabat dalam menafsirkan Al-Quran pada masa ini berpegang pada :
    a. Al-Quran Al-Karim, karena apa yang dikemukakan secara global disatu tempat dijelaskan secara terperinci ditempat yang lain. Kadang juga sebuah ayat datang dalam bentuk mutlaq atau umum namun kemudian disusul oleh ayat yang lain yang membatasi atau mengkhususkannya. Misalnya, kisah-kisah dalam Al-Quran yang bahas secara ringkas dibeberapa tempat, kemudian ditempat lain dibahas lebih mendalam.
    b. Nabi Muhammad Saw. Beliaulah pemberi penjelasan (penafsir) dalam memahami suatu ayat, mereka merujuk kepada Rasulullah Saw. Biasanya dalam kita-kitab hadits ada bab khusus yang berisi tentang tafsir bi al-ma’tsur yang bersumber dari Rasulullah Saw. Diantara kandungan Al-Quran ada beberapa yang tidak dapat diketahui takwilnya kecuali melalui penjelasan Rasulullah Saw. Misalnya penjelasan tentang perintah dan larangan, ketentuan hukum-hukum, dan sebagainya.
    c. Pemahaman dan ijtihad. Maksudnya, apabila sahabat tidak mendapatkan tafsir dalam Al-Quran dan sunnah Rasulullah, makaa mereka akan melakukan ijtihad.
    Diantara para sahabat yang banyak menafsirkan Al-quran adalah empat khalifah, Ibnu mas’ud, Ibnu Abbas, Ubay bin Ka’ab, Zaid bin Tsabit, Abu Musa Al-Asy’ari, Abdullah bin Zubair, Anas bin Malik, Abdullah bin Umar, Jabir bin Abdullah, Abdullah bin Amr bin Ash, dan Aisyah dengan terdapat perbedaan disetiap penafsirannya. Cukup banyak riwayat-riwayat yang dinisbatkan kepada mereka dan sahabat lainnya yang tentu saja berbeda-beda derajat ke-shahih-annya yang dilihat dari sudut sanadnya.
    Sebagian ulama mewajibkan untuk mengambil tafsir yang datang dari sahabat, dikarenakan merekalah yang paling paham bahasa arab dan ikut andil dalam situasi atau kondisi yang hanya diketahui mereka, disamping mereka mempunyai daya pemahaman yang shahih.
    Dalam periode ini tidak ada tafsir yang dibukukan, karena pembukuan baru dilakukan pada abad kedua. Disamping itu tafsir hanya merupakan cabang dari hadits, dan belum mempunyai bentuk yang teratur. Ia diriwayatkan secara bertebaran mengikuti ayat-ayat yang berserakan, tidak tertib atau berurutan sesuai sistematika Al-Quran dan surat-suratnya tidak mencakup keseluruhan.

    2. Pada masa Tabi’in
    Jika dikalangan sahabat banyak yang dikenal ahli dalam bidang tafsir, dikalangan tabi’in yang menjadi murid mereka pum, banyak ahli dibidang tafsir. Dalam menafsirkan, para tabi’in berpegang pada sumber-sumber yang ada pada masa dahulu disamping ijtihad dan pertimbangan mereka sendiri. Dalam memahami kitabullah, para mufasir berpegang pada:
    • Al-Quran
    • Keterangan dari para sahabat yang berasal dari Rasulullah
    • Penafsiran para sahabat
    • Ada juga yang mengambil dari ahli kitab yang bersumber dari isi kitab mereka
    • Berijtihad
    Tafsir yang dinukil dari Rasulullah dan para sahabat tidak mencakup semuanya. Mereka hanya menafsirkan bagian-bagian yang sulit dipahami. Kemudian kesulitan ini semakin bertambah ketika jauh dari masa nabi dan sahabat. Maka para tabi’in merasa perlu untuk menyempurnakan kekurangan ini. Karenanya mereka pun menambahkan keterangan-keterangan dalam tafsir untuk menghilangkan kekurangan tersebut. Setelah itu muncullah generasi sesudah tabi’in.
    Ketika penaklukan islam semakin luas, tokoh-tokoh terdorong untuk pindah ke daerah-daerah taklukan dan membawa ilmu masing-masing.

    3. Masa pembukuan
    Masa pembukuan dimulai pada akhir dinasti bani Umayyah dan awal dinasti bani Abbasiyah.


    ReplyDelete
  26. Nama : Laras Sati Budiana
    Nim : 21121. 1087
    Tanggal : 3 Oktober 2022
    LANJUTAN JAWABAN NO 2

    B. SEJARAH ULUMUL QURAN
    Pada masa Rasulullah, belum tersusun karena belum dibutuhkan oleh para sahabat. Walaupun begitu, awal mula lahirnya ilmu ini ditandai dengan aktivitas para sahabat dalam menghafal, menulis dan menafsirkan Al-Qur’an. Sahabat yang masyhur dalam penulisan wahyu antara lain: Abu Bakar ash-Shiddîq (w. 13 H), Umar ibn al-Khathâb (w. 23 H), Utsmân ibn Affân (w. 35 H), Ali ibn Abi Thâlib (w. 40 H), Mu`awiyah ibn Abi Sufyân (w. 60 H), Zaid ibn Tsâbit (w. 45 H), Ubayy ibn Ka`ab (w. 32 H), Khâlid ibn al-Walîd (w. 23 H), dan Tsâbit ibn Qais. Sedangkan sahabat yang paling banyak menafsirkan Al-Qur’an antara lain: Ali ibn Abi Thâlib (w. 40 H), ‘Abdullah ibn ‘Abbâs (w. 68 H), ‘Abdullah Ibn Mas’ûd (w. 32 H) dan Ubay ibn Ka’ab (w. 32 H).

    Pada masa Abu Bakar ash-Shiddiq Al-Qur’an dikumpulkan dalam satu mushaf dan disempurnakan penulisannya pada masa Utsman bin Affan dengan sistem penulisan yang disebut ar-rasm al-utsmani. Dengan begitu, ilmu rasm menjadi salah satu cabang ulumul Qur’an yang sudah dibahas. Pada masa ini juga sudah terkenal ilmu tafsir Al-Qur’an, asbabun nuzul, nasikh mansukh, gharib Al-Qur’an, dan sejenisnya yang akan menjadi bagian dari ulumul Qur’an.

    Pada masa sahabat dan tabi’in pembahasannya belum mencakup seluruh ayat dan penafsirannya belum mendalam. Baru kemudian pada masa berikutnya, tafsir Al-Qur’an menjadi disiplin ilmu tersendiri. Ditandai dengan munculnya ulama tafsir seperti Ibn Mâjah (w. 273 H), Ibn Jarîr at-Thabari (w. 310 H), dan Abû Bakar ibn Al-Munzir an-Naisabûri (w. 318 H).

    SEJARAH PENULISAN AL-QURAN PADA MASA UTSMAN BIN AFFAN

    Khalifah Utsman melakukan kodifikasi al-Quran yang merupakan lanjutan kerja yang telah dirintis oleh khalifah Abu Bakar, dengan inisiatif dari Umar bin Khatab. Pengkodifikasi al-Quran pada masa khalifah Utsman ini dilakukan karena terjadi perbedaan pendapat tentang bacaan al-Quran (qiraat al-Quran), yang menimbulkan percekcokan antara guru dan muridnya.

    Pertama-tama panitia pengkondifikasian melakukan pengecekan ulang dengan meneliti mushaf yang sudah disimpan di rumah Hafsah dan membandingkannya dengan mushaf-mushaf yang lain. Ketika itu terdapat empat mushaf al-Quran yang merupakan catatan pribadi.

    1) Mushaf al-Quran yang ditulis oleh Ali bin Abi Thalib, terdiri atas 111 surah. Surah pertama adalah surah al-Baqarah dan surah terakhir adalah surah al-Muawidzatain.

    2) Mushaf al-Quran yang ditulis oleh Ubay bin Ka’ab, terdiri atas 105 surah. Surah pertama adalah al-Fatihah dan surah terakhir adalah surah an-Nas.

    3) Mushaf al-Quran yang ditulis oleh Ibn Mas’ud, terdiri atas 108 surah. Surah yang pertama adalah al-Baqarah dan yang terakhir adalah surah Qulhuwallahu Ahad.

    4) Mushaf al-Quran yang ditulis oleh Ibn Abbas, terdiri atas 114 surah. Surah pertama adalah surah Iqra dan yang terakhir adalah aurah an-Nas.

    Tugas tim adalah menyalin mushaf al-Quran yang disimpan dirumah Hafsah dan menyamakan qiraat atau bacaanya mengikuti dialek Quraisy. Kemudian setelah berhasil, Zaid bin Tsabit mengembalikannya kepada Hafsah. Kemudian salinan itu dikirim juga ke Makkah

    ReplyDelete

  27. Nama : Laras Sati Budiana
    Nim : 21121. 1087
    Tanggal : 3 Oktober 2022
    JAWABAN NO 3

    A. PENGERTIAN AL-QURAN
    Al-Quran adalah kalam Allah yang diturunkan kepada nabi Muhammad Saw. melalui perantara malaikat Jibril yang merupakan mukjizat terbesar bagi nabi Muhammad Saw., diturunkannya secara berangsur-angsur, dan bagi yang membacanya adalah suatu ibadah.
    B. PENGERTIAN WAHYU
    Ustadz Muhammad Abduh mendefinisikan wahyu di dalam Risalah At-Tauhid sebagai, “Pengetahuan yang didapati seseorang dari dalam dirinya dengan suatu keyakinan bahwa pengetahuan itu datang dari Allah, baik dengan melalui perantaraan ataupun tidak. Yang pertama melalui suara yang terjelma dalam telinganya atau bahkan tanpa suara. Beda antara wahyu dan ilham adalah bahwa ilham itu adalah intuisi yang diyakini oleh jiwa yang mendorong untuk mengikuti apa yang diminta, tanpa sadar darimana datangnya. Hal seperti ini serupa dengan haus, lapar, sedih, dan senang.”
    C. Nama dan julukan Al-Quran:
    1. Al-Kitab (Kitab yang tertulis)
    2. Al-Huda (petunjuk)
    3. Al-Furqan (pembeda benar salah)
    4. Adz-Dzikr (pemberi peringatan)
    5. Al-Mau'idhah (pelajaran/nasihat)
    6. Asy-Syifa' (obat/penyembuh)
    7. Al-Hukm (peraturan/hukum)
    8. Al-Hikmah (kebijaksanaan)
    9. Al-Huda (petunjuk)
    10. At-Tanzil (yang diturunkan)
    11. Ar-Rahmat (karunia)
    12. Ar-Ruh (ruh)
    13. Al-Bayan (penerang)
    14. Al-Kalam (ucapan/firman)
    15. Al-Busyra (kabar gembira)
    16. An-Nur (cahaya)
    17. Al-Basha'ir (pedoman)
    18. Al-Balagh (penyampaian/kabar)
    19. Al-Qaul (perkataan/ucapan)
    D. Al-Quran adalah risalah Allah untuk seluruh umat manusia. Al-Quran memecahkan persoalan-persoalan kemanusiaan diberbagai segi kehidupan baik yang berkaitan dengan masalah kejiwaan, jasmani, social, ekonomi maupun politik dengan pemecahan yang sangat bijaksana karena ia diturunkan oleh yang Maha Bijaksana lagi Maha Terpuji. Kedudukan Al-Quran adalah sebagai sumber hukum tertinggi dalam islam.

    ReplyDelete
  28. Nama : Laras Sati Budiana
    Nim : 21121. 1087
    Tanggal : 3 Oktober 2022
    LANJUTAN SOAL NO 3
    Al-Quran merupakan risalah terakhir yang diturunkan kepada nabi Muhammad Saw. Dikarenakan terakhir, maka isi Al-Quran ini mampu menyempurnakan isi risalah-risalah sebelumnya yaitu taurat, zabur, dan injil.

    ReplyDelete
  29. Nama : Astari
    NIM : 21121.1043
    Tanggal :3 November 2022

    (1). Pengertian Tafsir, Takwil dan Terjemah
    a. TAFSIR
    Jika kita lihat dari berbagai pendapat para ulama tentang pengertian tafsir secara etimologi kita akan mendapatkan bahwa tafsir ini adalah menyingkap sesuatu yang abstrak (yang perlu diperjelas dalam konteks tulisan aslinya). Artinya adalah tafsir diartikan sebagai menyingkap sesuatu yang tertutup. Mengutip pendapat sebagaian ulama, kata “tafsir” (fasara) adalah kata kerja yang terbalik, berasal dari kata “safara” yang juga berarti menyingkap.
    Jika kita tinjau dari pendapat Abu Hayyan maka kita akan mendapati pengertian pengertian tafsir secara terperinci lagi yaitu “Ilmu yang membahas tentang cara penguvapan lafaz-lafaz al-Qur’an, tentang petunjukNya, hukum-hukumNya baik yang ketika berdiri sendiri maupun ketika tersusun dan makna-makna yang dimungkinkan baginya ketka trsusun serta ha-hal lain yang melengkapinya”.
    b. TA’WIL
    Menurut bahasa berasal dari kata “aul”. Perkataan mereka, “apa ta’wil perkataan? Artinya ialah “sampai kemana kah akibat yang dimaksud oleh perkataan itu?” kita ambil contoh Qs. Al-A’raf ayat 53 maksudnya ialah “disaat akibat (kesudahannya) tersingka”.
    Membelokkan atau memalingkan lafazh-lafazh atau kalimat-kalimat yang ada dalam Al-Qur’an dari makna dhahirnya ke makna lain, sehingga dengan cara demikian pengertian yang diperoleh lebih cocok dan sesuai dengan jiwa ajaran al-Qur’an dan Sunnah Rasulullah saw.

    C. TERJEMAH
    Mengutip dari buku Studi Ilmu-Ilmu Al-Qur’an kita dapati kata terjemah bisa kita maknai dalam dua arti; yang pertama adalah terjemah harfiyah dan yang kedua adalah terjemah tafsiriyah atau terjemah maknawiyah.
    • Terjemah Harfiyah yaitu mengalihkan lafaz-lafaz dari satu bahasa ke dalam lafaz-lafaz yang serupa dari bahasa lain sedemikian rupa sehingga susunan dan tertib bahasa kedua sesuai dengan susunan dan tertib bahasa pertama
    Maksudnya dalam konteks terjemah al-Qur’an yaitu seseorang mengganti lafaz asli (bahasa arab) kedalam bahasa lain (misalkan kita mengganti kedalam bahasa indonesia) tetapi dengan tetap mempertahkan kesamaan makna/arti yang terkandung dalam lafaz pertama (bahasa arab) tanpa merubah sedikitpun. Inilah yang dimaksud dengan terjemah harfiyah.
    • Terjemah Tafsiriyah atau Terjemah Maknawiyah yaitu terjemah yang menjelaskan makna pemicaraan dengan bahasa lain tanpa terikat dengan tertib kata-kata bahasa asal atau memperhatikan susunan kalimatnya
    Dapat kita katakan bahwa terjemah tafsiriyah atau terjemah maknawiyah ini adalah antonym dari terjemah harfiyah. Terjemah ini menjelakan pembicaraan dengan bahasa lain tetapi tidak mengikuti kaidah atau tertib bahasa asal, artinya adalah tafsir ini menggali/menyingkap kembali makna-makan yang terdapat pada tafsir harfiyah (makna sesuai dengan konteks kata asli).

    ReplyDelete
  30. (2). Sejarah Tafsir dan sejarah Ulumul Qur’an dari mulai masa Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam hingga masa sahabat Usman bin Affan r.a.,
    A. Tafsir pada masa Nabi Muhammad sallallahu alaihi wa sallam
    Allah menghendaki wahyu yang diturunkan-Nya itu terpelihara keorisilannya
    selama-lamanya. Ada dua cara yang dicatat oleh sejarah dalam hal pemeliharaan Al-qur'an pada masa Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam diantaranya adalah dengan menghafal dan menuliskannya. Setiap ayat yang diturunkan kepadanya, Nabi Muhammad sallallahu alaihi wa sallam menyuruh para sahabatnya untuk menghafalnya karena ingatan mereka sangatlah kuat, meskipun banyak diantara mereka belum bisa menulis maupun membaca, dan sebagian lainnya beliau memerintahkan untuk menuliskannya. Rasulullah menyuruh sahabat-sahabatnya agarmenulis ayat-ayat Al-Qur'an, adapun cara para sahabat dalam menulis Al-qur'an yaitu pada kepingan batu, kulit binatang, pelepah tamar, tulang, dan lain sebagainya.
    Rasulullah mengadakan peraturan berlaku dikalangan para sahabat tentang penulisan
    Al-Qur'an dikala itu, bahwa Nabi melarang para sahabat menulis selain dari pada ayat Al-Qur'an, dan siapa yang telah menulis sesuatu dariku selain Al-Qur'an maka ia harus
    menghapusnya. Larangan ini dengan maksud supaya Al-Qur'an terpelihara, dan khawatir
    akan bercampur aduk dengan yang lain. Walau bagaimanapun pengumpulan Al-Quran di
    zaman Rasulullah bukan dalam bentuk mashaf seperti di zaman Saidina Utsman bin Affan
    karena jika terjadi kekeliruan, ia dapat diatasi langsung oleh Rasulullah. Pada masa
    kehidupan Rasulullah seluruh Al-qur'an sudah tersedia dalam bentuk tulisan.
    Dengan demikian terdapatlah dimasa Rasulullah sallallahu alaihi wa sallam tiga unsur yang dapat memelihara Al-Qur'an, diantaranya adalah karena hafalan para sahabat yang menghafal AlQur'an, naskah-naskah yang ditulis untuk Nabi, dan naskah-naskah yang ditulis oleh mereka yang pandai menulis dan membaca untuk mereka masing-masing.

    ReplyDelete
  31. B. Tafsir pada masa sahabat
    1. Pada masa Nabi Muhammad sallalahu alaihi wa sallam
    Penulisan Al-Qur'an secara lengkap dari awal hingga akhir dengan urutan surat sebagaimana yang diajarkan Rasulullah telah selesai dilakukan pada masa Khulafaur Rasyidin. Termasuk mengakhiri perbedaan penulisan mushaf yang dapat berakibat pada perpecahan diantara kaum muslimin. Maka hal selanjutnya yang banyak dilakukan oleh umat adalah menyempurnakan penulisan mushaf dan meneruskan periwayatan AlQur'an dari generasi sebelumnya kepada generasi setelahnya.
    Sejarah mencatat penulisan Al- Qur’anul karim telah melewati tiga periode, yaitu pada masa Nabi Muhammad Sallallahu alaihi wa sallam, pada masa abu bakar ash-Shiddiq Radhiyallahu Anhu, dan pada masaUtsman bin Affan Radhiyallahu Anhu
    1. Pengumpulan Al- Qur’an pada masa Rasulullah Sallallahu alaihi wa sallam
    Ada dua cara yang dicatat oleh sejarah dalam hal pemeliharaan Al- Qur’an pada masa Rasulullah Sallallahu alaihi wa sallam di antaranya adalah dengan menghafal dan menuliskannya. Sahabat-sahabat penulis wahyu pada masa Rasulullah Sallallahu alaihi wa sallam di antaranya adalah Ubay ibn Ka‟ab (w.645), Mu‟adz ibn Jabal (w.639), Zaid Ibn Tsabit, Abu Zaid AlAshari (w.15H), Ali bin Abi Talib, Sa‟ad Ibn Ubayd (w.637), Abu Al-Darda (w.652), Ubayd Ibn Muawiyah, Tamim Al-Dari (w.660), Abd Allah Ibn Mas‟ud (w.625),Salim Ibn Ma‟qil (w.633),Ubadah ibn Shamit, Abu Ayyub (w.672), dan Mujammi‟ Ibn Jariyah.
    2. Pada zaman Abu Bakar Ash-Shiddiq Radhiyallahu Anhu
    Pengumpulan Al- Qur’an pada masa Abu Bakar Ash-Shiddiq Radhiyallahu Anhu di sebabkan syahidnya para qari pada perang yamamah, Jumlahnya sekitar 70 Qori. Hal ini menimbulkan kekhawatiran di hati Saidina Abu Bakar akan hilangnya Al-Quran. Abu Bakar mengambil keputusan untuk mengumpulkan/menyusun AlQur'an. Kemudian Abubakar memerintahkan Zaid bin Thabit (penulis atau sekretaris Nabi) untuk menjalankan tugas tersebut dengan mengumpulkan ayat-ayat Al-Qur'an dari daun, pelepah kurma, batu, tanah keras, tulang unta ataupun dari shabat-sahabat yang menghafalnya. Kemudian dibandingkan satu sama lainnya dengan pengawasan Abu bakar serta tokoh sahabat lainnya, sehingga mencapai target yang sejalan dengan tuntutan Allah dan Rasulnya. Sehingga Al-Quran ditulis secara mutawatir dalam mushaf sesuai dengan ketetapan Nabi Sallallahu Alaihi Wa sallam
    3. Pada zaman Utsman bin Affan Radhiyallahu Anhu
    Pada masa khalifah Utsman bin Affan Radhiyallahu Anhu di sebabkan terjadinya perbedaan manusia dalam bacaan karena perbedaan mushaf yang ada di tangan para sahabat. Sehingga di khawatirkan akan terjadi fitnah, kemudian Khalifah Ustman mengutus seseorang kepada Hafshah agar Hafshah mengirimkan lembaran-lembaran Al-Qur`an yang ada padanya kepada Utsman untuk disalin, dan setelah itu akan dikembalikan lagi. Hafshah pun mengirimkan lembaran-lembaran Al-Qur`an itu kepada Utsman. Oleh Utsman dibentuklah satu panitia, terdiri dari Zaid bin Tsabit (sebagai ketua/sebagai penulis Al-Qu'an), Abdullah bin Zubair, Said bin Al-‘Ash (sahabat yang pintar bahasa arab dan sekaligus pendekte dalam hal penulisan Al-Qur'an), dan Abdurrahman bin Harits bin Hisyam. Tugas Panitia ini ialah membukukan Al-Qur'an yaitu menyalin dari lembaran-lembaran tersebut menjadi sebuah buku. Dalam pelaksanaan tugas penulisan tersebut, utsman menasehati supaya mengambil pedoman kepada bacaan mereka yang hafal Al-Qur`an, dan jikalau ada pertikaian antara mereka tentang
    bahasa (bacaan), maka haruslah dituliska n menurut dialek suku Qurasy, sebab AlQur`an diturunkan menurut dialek mereka.Jumlah salinan yang telah dicopy sebanyak tujuh buah. Tujuh salinan tersebut dikirimkan masing-masing satu copy ke kota Makkah, Syam, Yaman, Bahrain, Bashrah, Kufah dan satu ditinggalkan di Madinah untuk Utsman sendiri.

    ReplyDelete
  32. Mushhaf inilah yang kemudian dikenal dengan nama
    Mushaf Utsmani. Kemudian Utsman memerintahkan Al-Qur`an yang ditulis oleh
    sebagian kaum muslimin yang bertentangan dengan Mushhaf Utsmani yang
    mutawatir tersebut untuk dibakar. Maka dari mushaf yang ditulis di zaman Ustman
    itulah kaum muslimin di seluruh pelosok menyalin Al-Qur`an itu dengan tidak
    berlawanan dengan apa yang ditulis dalam mushaf-mushaf yang ditulis dimasa
    tersebut.

    ReplyDelete
  33. (3). Pengertian Al-Qur’an dan Pengertian Wahyu
    Pengertian al-Qur’an
    Kalau kita kutif dari buku Ulumul Qur’an Praktis (Pengantar untuk Memahami Al-Qu’an) karya Drs. Hafidz Abdurrahman, MA menurut sebagian ulama berpendapat bahwa kata Qur'ân merupakan bentuk Mashdar (kata kerja yang dibendakan), dengan mengikuti standar Fu'lân, sebagaimana lafadz Gufrân, Rujhân dan Syukrân. Lafadz Qur'ân adalah lafadz Mahmûz, yang salah satu bagiannya berupa huruf hamzah, yaitu pada bagian akhir, karenanya disebut Mahmûz Lâm, dari lafadz: Qara'a-Yaqra'[u]-Qirâ'at[an]- Qur'ân[an], dengan konotasi Talâ-Yatlu-Tilâwat[an]: membaca-bacaan. Kemudian lafadz tersebut mengalami konversi dalam peristilahan syariat, dari konotasi harfiah ini, sehingga dijadikan sebagai nama untuk bacaan tertentu, yang dalam istilah orang Arab disebut: Tasmiyyah al-maf'ûl bi al-mashdar, menyebut obyek dengan Mashdar- nya.
    Atsar dari Ibn 'Abbas ini menjelaskan dengan nyata konotasi harfiah tersebut. Disebut demikian, karena al-Qur'an adalah bacaan yang dibaca dengan lisan, sebagaimana disebut juga dengan istilah Kitâb, karena dibukukan dengan menggunakan pena. Penyebutan dengan kedua istilah ini merupakan bentuk penyebutan sesuatu mengikuti konotasi realitas yang ada padanya.
    As-Syâfi'i berpendapat, dan pendapat ini kemudian dikuatkan oleh as-Suyûthi, bahwa al-Qur'ân adalah nama yang tidak diambil dari pecahan kata manapun (ghayr musytaqq). Ini adalah nama untuk kitab Allah, sebagaimana kitab-kitab samawi yang lain.
    Para ulama' ushul dan kalam telah mendefinisikan al-Qur'an dengan definisi yang beragam. Namun, definisi yang terbaik dan berkualitas adalah:
    Al-Qur'an adalah kalam Allah yang berupa mukjizat, diturunkan kepada Muhammad saw. dan dinukil kepada kita secara mutawatir, serta dinilai beribadah ketika membacanya.

    Sedangkan dikutif dari buku Pengantar Studi Ilmu Al-Quran wahyu adalah berasal dari kata Masdar, yang menunjukan kepada dua pengertian dasar, yaitu tersembunyi dan cepat. Oleh sebab itu dikatakan “Wahyu ialah informasi secara tersembunyi dan cepat yang khusus ditunjukan kepada orang tertentu tanpa diketahui orang lain. Terkadang juga bermaksud al-muha yaitu pengertian isim maful yang maknanya yang diwahyukan.

    Nama-nama al-Qur’an
    1. Kitâb: Allah menyebut al-Qur'an dengan sebutan Kitâb, sebagaimana yang dinyatakan dalam surat al-Jâtsiyah: 2:

    “Kitab (ini) diturunkan dari Allah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.”

    2. Dzik: Allah menyebut al-Qur'an dengan sebutan Dzikr, sebagaimana yang dinyatakan dalam surat al-Hijr: 9:

    “Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Al Qur'an, dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya.”

    3. Furqân: Allah juga menyebut al-Qur'an dengan sebutan Furqân, sebagaimana yang dinyatakan dalam surat al-Fuqân: 1

    “Maha Suci Allah yang telah menurunkan Al-Furqaan (Al Qur'an) kepada hamba-Nya, agar dia menjadi pemberi peringatan kepada seluruh alam.”

    4. Tanzîl: al-Qur'an disebut Tanzîl oleh Allah SWT. dalam banyak ayat, sebagaimana yang dinyatakan dalam surat as- Syu'arâ': 192:

    “Dan sesungguhnya Al Qur'an ini benar-benar diturunkan oleh Tuhan semesta alam.”
    Ide gagasan Al-Qur’an mencakup pembahasan semua lini kehidupan dan mengatur kehidupan manusia. Posisi al-Qur’an diantara wahyu yang lain adalah sebagai pedoman hidup manusia.

    ReplyDelete
  34. Nama: siti nur afifayuz zakiyah
    Nim: 21121.1098
    • Tafsir: bahasa : penjelasan atau keterangan .
    Menurut Muhammad As syairazi dalam kitab qomus al muhith tafsir secara bahasa artinya menyingkap sesuatu secara mendalam .
    Dalam surat al furqon ayat 33 tafsir adalah ucapan yang ditafsirkan, berarti ucapan yang tegas dan jelas.
    Ibnu hayyan: ilmu mengenai cara pengucapan kata- kata al quran serta cara mengungkapkan petunjuk, kandungan hukum dan makna yang terkandung didalamnya.
    Tafsir adalah ilmu yang menjelaskan kalam Allah atau ilmu untuk memahami lafadz al quran.

    ReplyDelete
  35. Perbedaan tafsir, takwil dan terjemah
    • Tafsir menerangkan makna lafal (ayat) melalui pendekatan riwayat, sedangkan takwil melalui pendekatan dirayah (kemampuan ilmu) dan berpikir rasional.
    • Tafsir memiliki cakupan yang terbatas karna tafsir harus bersumber dari penafsiran Rasulullah dan para sahabat ahli tafsir. Takwil cakupannya samgat luas bahkan dari setiap generasi ulama ahli tafsir dari setiap zaman memiliki penakwilan uang beragam dari setiap ayat al quran.
    • Tafsir menyangkut ayat yang lebih umum, sedangkan takwil menyangkut ayat mutasyabihat (samar dan perlu penjelasan).
    • Tafsir menjelaskan ayat yang umum, takwil menjelaskan ayat yang maknanya masih tersirat, terjemah pengalihan bahasa.


    • Sejarah tafsir dari nabi sampai sahabat utsman.
    Nabi: al quran turun dengan bahasa arab, mayoritas orang-orang paham dengan makna al quran, tapi sebagian masih ada yang belum paham atau memaknainya berbeda dengan yang lain, sebagai orang yang paling tau tentang al quran maka nabi pun memberikan penjelasan atau mentafsirkan al quran. An nahl : 44

    Sahabat:
    Metode sahabat dalam menafsirkan adalah menafsirkan alquran dengan alquran, menafsirkan alquran dengan sunnah nabi, atau dengan kemampuan bahasa, adat apa yang mereka dengar dari ahli kitab (yahudi dan nasrani) yang masuk islam dan telah bagus keislamannya. Sahabat yang menafsirkan alquran diantaranya adalah khulafaurrasyidin, abdullah bin abbas, abdullah bin masud, ubay bin kaab, zaid bin tsabit, abdullah bin zubair, dan aisyah.

    ReplyDelete
  36. • Al quran dan wahyu
    Alquran: bahasa: bacaan atau yang dibaca.
    Istilah: wahyu yang diturunkan oleh Allah kepad nabi Muhammad melalui malaikat jibril sebagai petunjuk bagi umat manusia.
    • Wahyu: bahasa : وَحَى (waḥā) yang berarti memberi wangsit, mengungkap, atau memberi inspirasi.
    Istilah: kalam atau perkataan dari Allah, yang diturunkan kepada seluruh makhluk-Nya dengan perantara malaikat ataupun secara langsung.

    • Nama dan julukan alquran
    1. Kitab : menghimpun ( al-Jam'u ). di dalamnya terkumpul dan terhimpun berbagai ilmu pengetahuan, kisah-kisah terdahulu, dan akhbar.
    2. Al mubin: fungsi Al-Qur'an adalah memperjelas hak dari yang batil.
    3. Al-Qur'an: bacaan yang di dalamnya terkumpul hal-hal yang berkaitan dengan kisah, perintah, larangan, ayat, surah, dan sebagainya. 
    4. Karim
    5. Kalam
    6. Nur
    7. Huda
    8. Rahma
    9. Furqon
    10. Syifa
    11. Dan lain-lain.


    • Ide gagasan al quran
    1. Akidah: berisi ketauhidan
    2. Ibadah: berisi pengajaran amalan-amalan pokok dalam kehidupan.
    3. Akhlak: berisi pengajaran maupun larangan baik tentang akhlakul karimah atau akhlakul madzmumah.
    4. Muamalah: pengajaran hubungan manusia dalam intraksi sosial sesuai syariat
    5. Tarikh atau qissah: kisah kisah atau peristiwa penting yang terjadi di masa lalu untuk dijadikan pelajaran di masa depan.

    • Posisi alquran diantara wahyu yang lain adalah sebagai pedoman hidup bagi seluruh umat. Alquran juga penyempurna dari seluruh kitab yang telah diturunkan.

    ReplyDelete
  37. Nama : Heni Julia S
    Matkul : Ulumul Qur’an
    NIM :
    Tanggal : 03/11/22



    1. Tafsir menurut Bahasa keterangan atau uraian, menurut istilah tafsir berarti ilmu yang mengenai cara pengucapan lafal-lafal Ai-quran serta cara mengungkapkan petumjuk, kandungan- kandungan hokum, dan makna-makna yang terkandung di dalamnya
    Takwil menurut Bahasa menerangkan atau menjelaskan, menurut istilah ialah mengembalikan sesuatu pada tujunnya, yakni menerangkan apa yang di maksud, menurut Terjemah hanya mengalihkan bacaan Al-quran yang berasal dari Bahasa arab ke dalam Bahasa non arab. Perbedaan tafsir bersifat lebih umum dan banyak di gunakan untuk lafal dan kosa kata dalam kitab-kitab yang di turunkan Allah dan kitab lainnya, sementara takwil lebih banyak di gunakan makna dan kalimat dalam kitab yang di turunkan Allah saja. Kemudian tafsir menerangkan makna lafal yang tak menerima selain dari satu arti, sdangkan takwil menetapkan makna yang di kehendaki suatu lafal yang dapat menerima bnyak makna karna di dukung oleh dalil.
    2. A. sejarah Ulumul Quran, sejarah ulumul Quran terjadi beberapa fase, dimana tiap-tiap fasemenjadi dasar perkembangan menuju fase selanjutnya, Ulumul Quran pada fase Rasulullah Saw, pada fase ini penafsiran Ayat suci Al-Quran langsung dari Rasulullah kepada para sahabat, atau berupa riwayat mengenai pertanyaan para sahabat mengenai pertanyaan para sahabat tentang makna suatu ayat Al-quran menghafal dan mempelajari hukumnya, kwmudian pada masa khalifah, perkembangan Ulumul quran di tandai dengan munculnya kebijakan-kebijakan para khalifah , 1) khalifah Abu bakar menetapkan kebijakan pengumpulan/penulisan Al-quran untuk pertama kalinya yang di prakarsai oleh Umar bin Khattab dan di tangani oleh Zaid bin Tsabit, 1). Kekhalifahan Utsman menetapkan kebijakan menyatukan kaum muslimin pada satu mushaf, dan terlaksan, dan di namakan mushaf imam, Salinan-salinan mushaf ini juga di kirimkan ke berbagai provinsi, penulis mushaf tersebut di namakan ar-rosmul utsmani.
    B. Sejarah Tafsir, Pada saat Al-quran di turunkan rasulullah menjelaskan kepada para sahabat tentang arti dan kandungan ayat yang samar artinya. Keadaan ini berangsur sampai dengan wafatnya Rasulullah. Kemudian beralihlah ke masa tabi’in, di sebut juga tafsir bul ma’sur, masa ini di sebut dengan periode pertama dalam perkembangan tafsir.dengan berakhirnya masa tabi’in tahun 150 H. Merupakan periode ke dua dari sejarah perkembangan tafsir, pada periode ini hadis-hadis telah beredar dengan sangat pesat dan juga mulai berdatangan hadis-hadis palsu dan lemah di kalangan masyarakat. Kemudian tafsir pada masa pembukuan di lakukan dalam 5 periode, periode pertama zaman bani muawiyah dan permulaan zaman abbasiyah .
    3. Pengertian Al-quran menurut terminology yaitu firman Allah yang mengandung mukjizat yang di turunkan kepada rasul atau baginda Rasulillah dengan perantara malaikat Jibril, yang tertulis di dalam mushaf yang di sampaikan kepada manusia secara mutawattier, Pengertian Wahyu adalah tanzil/munazzal,di turunkan langsung. Dalam artian apa yang di terima nabi adalah murni sebagai firman Allah secara utuh, tidak terkandung di dalamnya penafsiran dan pengalihan Bahasa oleh malaikat atau nabi sendiri. Posisi Al-quran ialah sebagai hokum islam, yang di mana Al-quran bukanlah perkataan dari malaikat,jibri , bukan pula sabda nabi dan bukan juga perkataan manusia. Al-quran adalah wahyu Allah yang merupakan sumber dari segala sumber ilmu dan inspirasi bagi umat islam, l-quran merupakan sumber ilmu yang memainkan peran yaitu sebagai sumber untuk menemukan suatu ilmu pengetahuan.

    ReplyDelete

Post a Comment